Tag Archive: olahraga


Mungkin memang saya saja yang terlalu naif atau terlalu “awam” sehingga saya pernah menganggap bahwa media olahraga bebas dari intrik-intrik politik olahraga, tidak seperti media umum yang kadang memang berpihak terhadap golongan politik tertentu. Pada tahun 2011, saya mulai rajin membaca Marca, dilanjutkan dengan As dan Mundo Deportivo setahun belakangan ini. Setelah lebih sering membaca ketiga media Spanyol itu, saya menjadi sadar bahwa media olahraga pun berpihak, sama dengan media umum. Berikut gambaran sekilas dari tiga media tersebut:

1. Marca

Marca adalah media olahraga terbesar di Spanyol. Terbit dengan format tabloid harian, Marca menjadi media cetak dengan pembaca terbanyak di Spanyol, melebihi harian umum. Harian ini memfokuskan diri pada berita-berita mengenai sepakbola, walaupun ada juga cabang olahraga lainnya seperti basket, tenis, dan otomotif. Markas Marca terletak di Madrid, dan faktanya, mereka lebih banyak memuat berita mengenai Real Madrid, terlepas dari ada 3 klub divisi utama Liga Spanyol lainnya yang bermarkas di Madrid (Atletico Madrid, Getafe, dan Rayo Vallecano). Banyak yang menuduh Marca memihak Real Madrid. Oscar Campillo, direktur Marca, pernah meyakinkan bahwa medianya adalah media bagi semua penggemar sepakbola. Meskipun demikian, pernyataan Campillo bertentangan dengan fakta bahwa Real Madrid mendapatkan pemberitaan paling banyak.

Hal pertama yang membuat tersentak dan sadar bahwa “media olahraga pun berpihak” adalah ketika saya membaca ulasan pertandingan Liga Champions musim 2012-2013 antara Borussia Dortmund-Malaga. Singkatnya, pada pertandingan tersebut wasit dianggap membuat keputusan kontroversial dengan mengesahkan gol Dortmund yang dianggap berbau offside. Hal yang menjadi sorotan saya di sini adalah cara sang wartawan menggambarkan pertandingan tersebut. Salah satu kalimat “tidak netral” yang saya temukan dalam artikel tersebut antara lain adalah :

No hay palabras que consuelen al malaguismo. No hay nada que se pueda escribir ni decir sobre la injusticia vivida anoche en Dortmund en sólo 71 segundo”

(“Tidak ada kata-kata yang dapat menghibur para penggemar Malaga. Tidak ada yang dapat dituliskan ataupun dikatakan mengenai ketidakadilan semalam di Dortmund (yang terjadi) hanya dalam jangka waktu 71 detik)

“Ketidakadilan”?? Well, belum apa-apa sang penulis sudah menyebut bahwa wasit melakukan ketidakadilan. Wasit juga manusia, mereka juga dapat melakukan kesalahan. Bisa saja sang wasit melakukan kesalahan pada saat memimpin pertandingan dan tidak bermaksud memberikan keuntungan kepada Dortmund.

Marca juga beberapa kali membuat “kampanye negatif”, salah satunya adalah “kampanye pemecatan Pellegrini” sebagai pelatih Real Madrid. Beberapa diantaranya ditunjukkan seperti contoh kover depan Marca di bawah ini :

NEGATIVE CAMPAIGN PELE

Terjemahan : Estas despedido Manolo : You’re fired, Manolo | Fuera : (Pellegrini) Out! | Vete ya : (You) Go away!

Selain itu, jika anda sering memperhatikan pertandingan yang dimainkan Real Madrid di Santiago Bernabeu dan pertandingan yang dimainkan Atletico di Vicente Calderon, Marca dipastikan muncul di papan-papan iklan stadion. Untuk memunculkan iklan di papan stadion tentunya bukanlah hal yang mudah. Kedua belah pihak harus mengadakan perjanjian. Jadi, tidak mengherankan apabila Marca hampir tidak pernah mengkritik keras kebijakan Real Madrid atau Atletico. Jika Marca mengkritik keras kebijakan Real Madrid atau Atletico, mungkin saja kedua media itu tidak dibolehkan “ngiklan” di stadion atau wartawan mereka tidak dibolehkan menumpang di pesawat yang membawa kedua tim ketika mereka melakukan perjalanan dalam rangka pertandingan tandang.

Dalam kasus kepindahan Angel Di Maria, Marca selalu berpegang pada pernyataan Ancelotti yang berkata bahwa “Di Maria sendirilah yang mengingingkan pergi” (lihat http://www.marca.com/2014/08/21/en/football/real_madrid/1408634693.html) dan Marca tidak pernah mengutip pernyataan Di Maria yang berkata bahwa “saya tidak pernah ingin pergi dari Real Madrid” (lihat http://www.espn.co.uk/football/sport/story/337367.html). Dua pernyataan yang bertentangan, tapi Marca hanya memuat satu pernyataan. Hal ini jelas tidak “cover both side” dan menggiring pembaca untuk percaya pada pernyataan yang dikeluarkan oleh Ancelotti.

2. As

Harian As juga bermarkas di Madrid. Format harian ini hampir sama dengan Marca, yaitu tabloid harian. Sama seperti halnya Marca, harian ini memfokuskan diri untuk mengulas sepakbola, dan lagi-lagi Real Madrid-lah yang paling banyak mendapatkan pembahasan.

Satu hal yang lagi-lagi membuat saya tersentak adalah bahwa ada seorang jurnalis yang secara terbuka mengakui bahwa dirinya pendukung Real Madrid. Sebenarnya tidak masalah apabila secara terbuka sang jurnalis memberikan pengakuan mengenai “ideologi sepakbola”-nya, akan tetapi menjadi masalah apabila dia berpihak dalam menulis opini.

Sang jurnalis ini bernama Tomás Gómez-Díaz Roncero, atau lebih populer dengan nama Tomas Roncero. Dia adalah redaktur desk Real Madrid di harian As. Mengapa saya katakan bahwa dia berpihak dapat dilihat dari contoh opini yang dia tulis di website As.com. Opini tersebut berjudul : “Fichemos Varios Españoles” (Kami Merekrut Berbagai Pemain Spanyol). Inilah cuplikan kalimat yang dilontarkannya di artikel tersebut :

Sé que lo primero es renovar a Cristiano y fichar a Bale. Pero cerremos ya la vuelta de Carvajal y, si se tercia, traigamos a uno de esos españolitos

(Saya tahu bahwa pertama-tama adalah memperpanjang kontrak Ronaldo dan merekrut Bale. Akan tetapi kami kembali merekrut Carvajal, dan jika ada kesempatan, kami merekrut pemain muda Spanyol)

Apabila Roncero mengaku sebagai jurnalis, seharusnya dia tidak menulis opini dengan kata ganti kami. Sepertinya dia tidak sadar bahwa tidak semua pembaca As adalah pendukung Real Madrid. Kesannya, Roncero ini seperti juru bicaranya Real Madrid.

3. Mundo Deportivo

Tabloid harian Mundo Deportivo bermarkas di Barcelona. Walaupun bermarkas di Barcelona, tabloid ini tidak menggunakan bahasa Katalan sebagai bahasa penutur, melainkan bahasa Spanyol. Sama seperti Marca dan As, sebagian besar tabloid ini fokus kepada liputan sepakbola, khususnya FC Barcelona (FCB). Rival FCB, yaitu Espanyol, tidak banyak mendapatkan tempat di tabloid ini. Tabloid ini juga memasang iklan mengenai produk klub Barcelona seperti yang terlihat di bawah ini :

???????????????????????????????

Sebagai pengiklan dan pemasang iklan, jelas keduanya saling menguntungkan. Mundo Deportivo mendapatkan pemasukan dari tarif iklan dan FCB memiliki potensi untuk mendulang keuntungan dari penjualan produknya. Jadi, tidak mengherankan apabila Mundo Deportivo kadang “diminta” untuk menulis berita yang berpihak kepada rezim pimpinan klub yang sedang berkuasa.

Kasus paling menonjol dari keberpihakan Mundo Deportivo, selain kepada Barcelona, adalah keberpihakan kepada Sandro Rosell dalam pemilihan presiden klub Barcelona pada 2010 lalu. Beberapa kali tabloid ini menjelek-jelekkan rezim Laporta, seperti terlihat dalam gambar artikel di Mundo Deportivo ini:

laporta 2

Di artikel tersebut disebutkan bahwa rombongan FCB menginap di hotel ketika tur Amerika Serikat dan biaya ditanggung oleh penyelenggara. Walaupun demikian, biaya ekstra tidak ditanggung oleh penyelenggara dan seharusnya dibayar sendiri oleh Barcelona. Yang menjadi masalah, disebutkan bahwa pihak klub FCB masih memiliki hutang sebesar USD127.797. Laporta sendiri membantah hal itu. Laporta juga pernah berkata bahwa : “Mundo Deportivo berkampanye mendukung Sandro Rosell”.

Media Olahraga Spanyol dan Tim Nasional Sepakbola Spanyol

Marca dan As sangat mendukung tim nasional Spanyol. Hal itu sudah tidak diragukan lagi. Berbeda halnya dengan Mundo Deportivo yang agak “sinis”. Situasi politik Spanyol mempengaruhi hal ini. Media Katalunya, termasuk media olahraga, tidak menganggap Katalunya sebagai bagian dari Spanyol. Dalam penulisan berita mengenai tim nasional, media Katalunya lebih fokus kepada kiprah para pemain Barcelona di tim nasional. Ya, sampai kapan pun olahraga tidak dapat lepas dari kondisi politik di suatu negara.

Tulisan ini juga dimuat di : http://laligaindonesia.wordpress.com/2014/11/16/media-olahraga-pun-berpihak/

Image

(Sumber foto : http://static.goal.com/201600/201617hp2.jpg )

Sepakbola selalu diidentikan sebagai hal yang berbau maskulin. Selalu meneguhkan bahwa estetika permainan sepakbola mengajarkan suatu maskulinitas tradisional.

Jadi saat wanita terlibat langsung dalam sepakbola, selalu muncul stereotip bahwa  “sepakbola akan membuat wanita menjadi laki-laki”, “olahraga akan membahayakan kesehatan wanita”, “wanita tidak memiliki kemampuan untuk berolahraga” atau “wanita tidak tertarik untuk berkompetisi”.

Menurut stereotip partriarkis, lelaki dilahirkan untuk “mendominasi, bersaing, dan berjuang”, sebaliknya wanita diharuskan untuk “memahami, memiliki sifat penurut, bersolidaritas, serta menunjukkan ketenangan.

Menurut Ana Bunuel Heras, seorang sosiolog asal Spanyol, olahraga adalah sebuah lapisan sosial yang sempurna untuk mempertunjukkan identitas maskulin, yaitu agresi dan rivalitas yang diatur oleh peraturan tertentu.

Dalam buku berjudul “Del Juego Al Estadio” karangan Jacobo Rivero dan Claudio Tamburrini, dikatakan bahwa olahraga memiliki arti bahwa laki-laki lebih baik. Hal itu diciptakan melalui fakta bahwa cabang olahraga paling terkenal dan mendapatkan bayaran lebih baik adalah cabang olahraga yang dimainkan oleh laki-laki.

Diskriminasi Sepakbola Wanita di Inggris

Keterlibatan wanita di sepakbola telah berlangsung sejak lama. Ada bukti-bukti bahwa wanita telah bermain sepakbola sejak masa Dinasti Han di Cina. Sejarah sepakbola modern sendiri berawal di Inggris, termasuk sepakbola wanita.

Dalam laporan FA, pertandingan resmi pertama sepakbola wanita di Inggris digelar antara tim yang mewakili London Utara melawan London Selatan. Tim utara menang telak 7-1 atas tim selatan.

Sayangnya pada tahun 1921 FA melarang penyelenggaraan kompetisi sepakbola wanita. Alasannya bahwa sepakbola tidak cocok dan tak dianjurkan dimainkan oleh wanita.

Di masa itu ada bukti nyata bahwa lahirnya sepakbola perempuan sebagai ancaman terhadap permainan laki-laki.  Lewat tim “Dick, Kerr Ladies XI” yang terkenal menjadi luar biasa sukses, FA pun panik.

Selama tahun 1921, mereka melangsungkan 67 pertandingan di Inggris dan mampu menyedot penonton hingga 900.000 orang. Tim ini sempat melakukan tur internasional dan tak terkalahkan di kandang melawan klub-klub pria. Pada akhirnya, lewat kekuatannya FA menginstruksikan klub untuk tak menyewakan lapangan mereka pada wanita.

Perlu waktu hampir setengah abad hingga akhirnya sepakbola wanita diakui secara mutlak. Dogma stereotip FA yang kolot terhadap wanita  bahkan perlu didobrak lewat bantuan UEFA. Dibentuklah Women’s Football Association (WFA) pada tahun 1969.  WFA sendiri sebenarnya terpisah dari FA.

Perkembangan sepakbola wanita yang semakin pesat ternyata menggiurkan FA.Hingga pada akhirnya mengambil alih penyelenggaraan liga sepakbola wanita pada tahun 1994.

Melawan Diskriminasi Terhadap Sepakbola Wanita di Spanyol

Tak hanya di Inggris, pesepakbola wanita Spanyol pun menjalani cerita yang sama.

Dalam rangka memperingati Hari Wanita Internasional yang diperingati pada tanggal 8 Maret lalu, Komisi Serikat Pekerja Spanyol mengunggah video di Youtube yang berjudul “Te Juegas Mucho”. Video itu menggambarkan kondisi pesepakbola wanita di Spanyol yang sering mengalami diskriminasi.

Maria Jose Lopez, Sekjen Asosiasi Pesepakbola Wanita Spanyol mengatakan regulasi pengakuan sepakbola wanita amatlah bertumpang tindih. Ibarat mata uang dua sisi, dalam undang-undang yang membahas kesetaraan gender pemerintah diwajibkan untuk memberdayakan atlet wanita.

Tapi disisi lain, dalam dekrit Kerajaan mengenai Federasi Olahraga Spanyol  dijelaskan bahwa hanya mengakui satu kompetisi olahraga profesional berdasarkan jenis kelamin. Jadi jika ada kompetisi olahraga profesional untuk laki-laki, maka tidak ada kompetisi olahraga profesional untuk wanita.

Hal ini menegaskan bahwa status pesepakbola wanita di Spanyol semuanya masih dalam status amatir.  Liga dan klub yang menaungi mereka pun berstatus amatir.

Masalah muncul karena banyak diantara mereka yang tidak dikontrak secara profesional. Ketiadaan kontrak secara profesional mengakibatkan tidak adanya perlindungan dan jaminan sosial, terlebih jika mereka mengalami cedera dan hamil.

“Apa yang terjadi jika seorang pesepakbola wanita hamil? kontrak mereka dapat diputus dan mereka tidak mendapatkan apapun” ucap Maria Jose Lopez.

Perjuangan Melawan Madrid yang Bebal

Pada tahun 2009 presiden Real Madrid Florentino Perez  mengeluarkan pernyataan mencengangkan ketika diwawancarai harian El Confidencial terkait alasan mengapa Real Madrid tak memiliki tim sepakbola wanita.

Perez berkata bahwa sepakbola wanita tidak menguntungkan secara ekonomi dan tidak menarik. Hal ini tentu saja tak logis, mengingat pesain-pesaing mereka di La Liga seperti i Athletic Bilbao, Atletico Madrid, Barcelona, Real Sociedad, Sevilla, dan Valencia telah memiliki tim sepakbola wanita.

Ana Rosell, seorang socia (anggota klub) Real Madrid dan mantan kapten tim sepakbola wanita Atletico Madrid, sedang mengerjakan proyek untuk membentuk tim sepakbola wanita Real Madrid yang telah ia mulai sejak tahun 1998. Sayang, hasilnya selalu nihil.

“Pada kurun waktu tersebut saya telah menulis surat kepada semua presiden klub dan responnya selalu negatif. Saya sempat dekat dengan Mijatovic yang pernah menjadi direktur teknik, namun kepindahannya menghambat saya dan terakhir kali saya kembali melakukannya dengan Florentino Perez. Pihak klub selalu mengatakan tidak, karena alasan ekonomi dan profit. “ ucap Rossel.

Saat ditanya mengapa El Real perlu membentuk tim wanita,  Rossel menjawab ada simbiosis mutualisme diantara keduanya. Sepakbola wanita memerlukan Real Madrid karena Madrid adalah tim tersukses di dunia yang semua orang berpatok membangun klub darinya.

Di lain sisi ada sisi pencitraan yang bisa dimanfaatkan Madrid  yang dilihat dari aspek image, tanggung jawab sosial dan prestise di dunia internasional.

Semua klub-klub besar di Spanyol dan Eropa memiliki tim sepakbola wanita yang berada di papan atas. UEFA serta FIFA pun tak henti mendorong pengembangan sepak bola wanita. Akan menjadi sebuah hal yang memalukan apabila sebuah klub besar seperti Real Madrid tidak berpartisipasi pada proyek ini.

Secara kultural Eropa bukanlah suatu tempat yang dimana perempuan dirongrong untuk tak terlibat langsung dalam sepakbola seperti di belahan negara lain. Kasus Real Madrid adalah hal yang cukup unik. Ucapan Perez diatas adalah penegas bahwa dalam sepakbola hitung-hitungan profit tentu lebih penting ketimbang memberikan hak kepada kaum wanita untuk bermain sepakbola.

 

(Tulisan ini dimuat di http://www.panditfootball.com . Link lengkap dari tulisan ini dapat dilihat di : http://www.panditfootball.com/diskriminasi-terhadap-wanita-di-dunia-sepakbola/ )

 

 

Image

Nama Diego da Silva Costa memang tidak terlalu populer di kalangan penggemar sepakbola, tidak seperti Lionel Messi atau Cristiano Ronaldo. Walaupun demikian, dia menjadi pahlawan pada pertandingan derby Madrid dengan gol tunggal yang dicetaknya pada menit ke-11. Gol ini sekaligus memecahkan “kutukan” yang dialami Atletico selama 14 tahun belakangan ini, yaitu tidak pernah menang atas Real Madrid pada pertandingan Liga. Sebelumnya, Costa juga pernah mencetak  gol di Santiago Bernabeu, yaitu pada saat final Piala Raja 17 Mei lalu.

Perjalanan karir Diego Costa di sepakbola agak sedikit mengejutkan. Sang pemain tidak pernah bergabung dengan klub apapun sampai dengan usia 16 tahun. Lantas, dimana dia menghabiskan waktunya sampai dengan umur 16 tahun?? Tidak lain dan tidak bukan adalah di jalanan. Ya, dia dibesarkan di kota Lagarto, sebuah kota di Brasil yang menurutnya tidak mempunyai fasilitas olahraga ataupun lapangan rumput. Ketika Messi mendapatkan pengetahuan mengenai sepakbola di “La Masia”, Costa pernah mengakui bahwa “jalanan adalah sekolah saya”.

Pada saat berusia 14 tahun, Costa dan keluarganya pindah ke Sao Paulo. Disana, dia bergabung dengan klub sepakbola “Barcelona Esportivo Capel”. Ketika bermain di klub ini, dia pernah dihukum karena memukul pemain lawan dan mengancam wasit. Well, Costa ini bisa diibaratkan  “Mario Balotelli” ala Brasil. Dia pernah mengungkapkan bahwa ada satu hal negatif karena dia tidak pernah didaftarkan oleh orangtuanya ke akademi sepakbola. Berikut pernyataannya :

“Di lapangan, saya bertengkar dengan setiap orang, saya tidak dapat mengontrol diri saya, saya tidak punya respek terhadap lawan, saya pernah berpikir bahwa saya harus membunuh mereka. Anak yang tumbuh  di akademi sepakbola diajarkan untuk mengendalikan dirinya dan menghormati orang lain, akan tetapi tak seorangpun yang memberitahu. Saya terbiasa untuk melihat para pemain saling menyikut wajahnya satu sama lain dan saya pernah menganggap bahwa itulah aturannya”

Beruntung hal buruk tersebut tidak mempengaruhi karirnya ke depan. Menariknya, dia mendapatkan pengurangan hukuman dan pada tahun 2006 mendapatkan tawaran untuk bermain di klub asal Portugal, Sporting Braga. Jorge Mendes-lah yang berperan dalam kepindahannya. Mendes juga adalah agen dari para pemain bintang seperti Falcao, Cristiano Ronaldo, Pepe, Thiago Silva, Angel di Maria, dan pelatih Chelsea, Jose Mourinho.

Costa bergabung dengan Atletico Madrid pada tahun 2007, akan tetapi tidak pernah sekalipun berkostum Atletico pada 2 musim pertamanya. Dia malah dipinjamkan ke Braga, Celta Vigo, dan Albacete. Pada musim 2009-2010, dia dijual ke Real Valladolid dan kembali ke Atletico pada musim berikutnya. Pada bulan Juli 2011, Costa mengalami cedera cruciate ligament rupture yang cukup parah, sehingga mengharuskannya beristirahat selama 6 bulan.

Setelah sembuh dari cedera, lagi-lagi dia sempat dipinjamkan ke klub lain, kali ini ke Rayo Vallecano sampai berakhirnya musim 2011-2012. Di musim 2012-2013 inilah kehebatan Costa mulai mendapatkan perhatian. Diduetkan dengan Radamel Falcao, kedua striker ini menyumbang total 54 gol bagi klubnya pada musim 2012-2013 (Costa menyumbang 20 gol, sementara Falcao menyumbang 34 gol). Kelebihan sang pemain dapat dideskripsikan secara singkat : kuat secara fisik, agresif, dan punya kemampuan dalam duel-duel di udara. Para pemain bertahan seringkali terpaksa menghentikannya apabila diperlukan. Satu hal yang menjadi catatan buruk dari Costa adalah tempramen-nya yang meledak-ledak, yang kadang merugikan dirinya sendiri dan timnya. Pelatih Atletico, Diego Simeone bahkan pernah beberapa kali menariknya keluar dan menggantikannya dengan pemain lain karena takut sang pemain terkena kartu merah akibat tidak dapat mengendalikan emosinya.

Kehebatan Diego Costa pun menarik perhatian pelatih timnas Brasil, Luis Felipe Scolari. Costa sempat dipanggil untuk memperkuat timnas Brasil pada pertandingan persahabatan melawan Italia dan Rusia pada bulan Maret 2013. Sayangnya, Costa tidak dipanggil untuk memperkuat timnas Brasil pada Piala Konfederasi. Sampai saat ini, Costa tidak pernah bermain pada pertandingan resmi dengan timnas Brasil.

Melihat penampilannya yang impresif, cukup mengherankan apabila pada pertandingan selanjutnya dia kembali tidak dipanggil oleh Scolari. Kendati demikian, Costa tidak perlu khawatir karena dia masih memiliki opsi kedua : memperkuat timnas Spanyol. Ya, Costa resmi menjadi warganegara Spanyol pada tanggal 5 Juli 2013 setelah disumpah di hadapan catatan sipil di Madrid. Dia diuntungkan dengan peraturan FIFA yang memungkinkannya untuk memperkuat timnas Spanyol karena dirinya belum pernah tampil pada pertandingan resmi bersama Brasil. Pada saat ini, Federasi Sepakbola Spanyol (RFEF) sedang mengirimkan permintaan kepada federasi sepakbola dunia (FIFA) agar Costa dapat memperkuat timnas Spanyol.

Selain itu, Costa juga pernah mendapatkan tawaran dari Liverpool pada bursa transfer musim panas lalu namun dia memilih bertahan di klubnya saat ini, Atletico Madrid. Keinginan Liverpool untuk menggaet pemain berusia 24 tahun ini sangat serius. Liverpool berencana menaikkan penghasilannya 3 kali lipat dibandingkan yang diterimanya pada saat itu, namun memang bukan hanya uang yang semata-mata menjadi pertimbangan sang pemain.

Berikut penuturannya mengenai tawaran dari Liverpool :  “Kesempatan itu ada, bahkan hampir saya ambil. Liverpool tim hebat tetapi setelah bekerja keras menuju skuad utama, bagaimana bisa saya meninggalkan tim? Saya pikir sangat penting bertahan dan berkembang bersama Atletico. Saya ingin bermain di sini untuk beberapa musim ke depan. Saya mendapat kepercayaan penuh dan merasa dihormati di sini. Saya sudah lama mengenal sepakbola dan benar-benar bisa mencintai klub. Cara terbaik memperlihatkan rasa cinta adalah bermain semaksimal mungkin, ini pandangan saya”, katanya.

“Memperlihatkan rasa cinta dengan bermain semaksimal mungkin”. Itulah yang dilakukannya pada pertandingan melawan Real Madrid di Stadion Santiago Bernabeu pada bulan Mei lalu. Satu dari 2 gol Atletico dicetak olehnya sekaligus memastikan Atletico menjadi juara. Dia kembali menjadi pahlawan kemenangan timnya pada derby pertandingan liga. Satu gol yang diciptakannya pada menit ke-11 cukup untuk membungkam Madrid yang diperkuat dengan para pemain bintang  bergaji sangat tinggi. Ya, kadang uang tidak menjamin suatu tim untuk meraih kemenangan. Diego Costa bersama timnya telah membuktikan hal tersebut.