Tag Archive: La Liga


Sepakbola, sebagaimana olahraga kolektif lainnya, terdiri dari beberapa pemain yang memiliki fungsi spesifik di lapangan pertandingan. Liga sepakbola Spanyol, terlepas dari anggapan sebagai liga yang “kurang kompetitif”, tetap menjadi tontonan menarik di seluruh dunia.

Bahasa asing seperti bahasa Jerman, bahasa Italia bahkan bahasa Spanyol sendiri kurang populer bagi kita yang tinggal di Indonesia. Namun untuk menambah pengetahuan di dunia sepakbola, ada baiknya kita mengenal penamaan posisi dan fungsi para pemain di lapangan. Penamaan pemain dalam bahasa Spanyol sendiri cukup unik karena untuk penamaan satu posisi dapat digunakan beberapa istilah.

Seperti telah kita ketahui bersama bahwa lapangan sepakbola terdiri dari 3 bagian: lini belakang (la defensa/la zaga), lini tengah (el mediocampo), dan lini depan (el ataque).

Lini Belakang (La Defensa / La Zaga)

Seorang kiper menjadi “harapan terakhir” di lini pertahanan apabila para pemain belakang tidak berdaya menghadapi serangan lawan. Dalam bahasa Spanyol, ada beberapa istilah yang digunakan untuk menyebut kiper yaitu el portero (atau la portera, untuk kiper perempuan), el arquero (atau la arquera, untuk kiper perempuan), el guardameta dan el cancerbero. Istilah elportero atau laportera lebih sering digunakan di Spanyol, Amerika Tengah, dan sebagian besar negara-negara berbahasa Spanyol di Amerika Selatan. Sementara itu istilah el arquero atau la arquera lebih sering digunakan di Chile, Argentina, Uruguay, dan Paraguay.

Selain el portero dan la portera, terminologi el guardameta dan el cancerbero juga kerap kali digunakan dalam penulisan berita dan artikel sepakbola di media-media Spanyol.

Guardameta adalah gabungan dari kata guarda dan meta. Guarda berasal dari kata dasar guardar, yang artinya adalah “menjaga”. Meta diartikan sebagai “tujuan”, atau “goal”. Istilah “cancerbero” memiliki asal usul yang sangat unik , yang sangat jauh dari dunia sepakbola. Istilah ini berasal dari mitologi Yunani. “Cerbero”, yang juga dikenal sebagai “Can Cerbero” adalah seekor anjing bertubuh besar yang memiliki 3 kepala , yang bertugas untuk menjaga pintu neraka.

lini pertahanan (spanyol) copy

Selain penjaga gawang, posisi lainnya yang menjadi bagian dari lini belakang adalah bek (el defensor atau el zaguero ). El defensor terdiri atas el lateral (bek sayap) dan defensor central atau lebih sering disebut “central”(bek tengah). Berdasarkan posisinya di lapangan, el lateral terdiri dari dua macam yaitu el lateral izquierdo (bek sayap kiri) dan el lateral derecho (bek sayap kanan).

Lini Tengah (El Mediocampo)

Di depan para bek, ada beberapa pemain yang mengisi posisi sebagai gelandang. Ada beberapa terminologi untuk menyebut “gelandang”: centrocampista, mediocampista, mediocentro, atau medio. Keempat istilah itu lebih sering digunakan di Spanyol, sementara volante lebih sering digunakan di Amerika Selatan. Istilah volante ini berasal dari nama seorang pemain asal Brasil, Carlos Martin Volante, yang pernah bermain di Flamengo sebagai gelandang bertahan.

Berdasarkan karakteristik permainan di lapangan, gelandang terdiri dari gelandang serang (mediocentro ofensivo) dan gelandang bertahan (mediocentro defensivo). Berdasarkan fungsinya dan tergantung dari skema yang diterapkan oleh sebuah tim, los centrocampistas terdiri dari mediocentro de contencion, mediocentro organizador, interior, dan mediapunta .

Mediocentro de contencion adalah gelandang yang memiliki tugas untuk bertahan, merebut bola, dan mematahkan serangan lawan (intercept), atau lebih dikenal dengan istilah gelandang jangkar. Contoh dari mediocentro de contencion ini adalah Sergio Busquets dan Xabi Alonso.

Selain mediocentro de contencion, fungsi  lainnya yang juga penting adalah pemain yang dapat bertugas sebagai pengatur permainan yang juga memiliki visi yang baik. Di Spanyol, pemain yang memiliki fungsi ini disebut dengan mediocentro organizador. Cotohnya adalah Luka Modric, Xavi Hernandez, dan Andres Iniesta.

Istilah interior dapat disamakan dengan wide midfielder, yaitu seorang gelandang yang beroperasi di sisi sayap (kiri atau kanan) yang bertugas untuk membuka ruang agar para gelandang lainnya atau para penyerang dapat memanfaatkanya untuk mencari ruang tembak atau masuk ke kotak penalti. Posisi ini biasanya terdapat dalam skema 4-4-2 flat. Angel Di Maria, ketika bermain di Real Madrid, adalah salah satu pemain yang menonjol dalam skema 4-4-2 yang diterapkan oleh Carlo Ancelotti.

lini tengah (spanyol) copy

Dalam skema 4-2-1-3, ada seorang pemain yang bermain di posisi di belakang penyerang dan di depan gelandang. Di Spanyol, pemain ini disebut dengan mediapunta. Pemain ini bertugas untuk mengkoordinasi serangan tim, melakukan operan terakhir kepada para penyerang dan memanfaatkan ruang yang ditinggalkan oleh para bek lawan. Biasanya para pemain ini memiliki visi yang dan teknik dribbling yang sangat baik.

Lini depan (El Ataque)

Sebagaimana bek dan gelandang yang banyak memiliki istilah, begitupula penyerang. Ada beberapa terminologi untuk menyebut “penyerang” dalam sepakbola Spanyol yaitu: delantero (atau delantera untuk pesepakbola perempuan), el punta, dan el atacante.

Berdasarkan posisinya, los delanteros atau las delanteras terdiri dari delantero centro, extremo derecho (penyerang sayap kanan) , dan extremo izquierdo (penyerang sayap kiri). Peran ini kerapkali dibebankan kepada Pedro Rodriguez dan David Silva yang dipasang di posisi penyerang sayap kanan ataupun kiri oleh sang entrenador, Vicente del Bosque, saat tim nasional Spanyol bertanding.

lini depan (spanyol) copy

Bagaimana, sudah merasa terbiasa dengan bahasa Spanyol? 

Hasta luego, muchas gracias, amigos amigas!

———————————————————

Tulisan ini telah dimuat di : http://panditfootball.com/ . Link lengkap tulisan ini dapat dilihat di http://panditfootball.com/pandit-sharing/glosari-mengenal-posisi-pemain-dalam-bahasa-spanyol/ .

Infografis oleh : Zakky BM (twitter : @bmzakky )

Advertisements

Jika Anda penggemar sepakbola, Anda mungkin mengetahui bahwa Liga Sepakbola Spanyol, La Liga, adalah salah satu Liga terbaik di dunia. Pemain paling terkenal Spanyol, Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi, menjadi incaran dari merek-merek olahraga terkenal di seluruh dunia. Menurut laporan majalah Forbes mengenai peringkat atlet berpenghasilan terbesar di dunia, Ronaldo berada di peringkat ke-2 dalam daftar atlet terkaya di dunia, sementara itu Messi menempati peringkat ke-4 .

Di tengah ingar bingar kompetisi sepakbola Spanyol, ada banyak pesepakbola perempuan yang nasibnya sangatlah berbeda dengan para pesepakbola laki-laki pada umumnya. Secara kultur, Spanyol bukanlah negara yang melarang perempuan untuk beraktivitas di dunia olahraga, namun hampir mustahil untuk mendapat penghasilan sebagai pesepakbola profesional jika Anda perempuan.

Di Spanyol, mayoritas pesepakbola perempuan menekuni profesinya sambil melakukan pekerjaan lainnya atau sambil belajar di sekolah. Tidak seperti di Amerika Serikat, di mana sepakbola populer di kalangan perempuan, di Spanyol sepakbola perempuan tidak dianggap sebagai kompetisi profesional. Banyak klub yang memberikan gaji di bawah standar bahkan ada klub yang sama sekali tidak memberikan gaji. Terminologi profesional yang dimaksud di sini adalah ada kontrak dalam jangka waktu tertentu, ada tunjangan, terlindungi oleh jaminan sosial, dan sesuai dengan aturan gaji minimal”.

Vero Boquete, pemain asal Spanyol yang bermain di FFC Frankfurt, menjelaskan mengenai masalah kontrak profesional yang dimiliki oleh para pesepakbola perempuan: “Jika kita mendalami data Federasi Sepakbola Spanyol (RFEF), di negara kami (Spanyol), hanya 31 pesepakbola perempuan yang dikontrak secara profesional sementara ada 2.660 pesepakbola laki laki yang dikontrak secara profesional.”

Kesenjangan pendapatan berdasarkan gender bahkan lebih dalam lagi. Berdasarkan data tahun 2013, rata rata gaji yang diterima oleh pesepakbola laki-laki yang bermain di divisi utama adalah 1,1 juta euro per tahun, sementara gaji rata rata yang diterima oleh pesepakbola perempuan adalah 5000 euro. Lebih lanjut, gaji terendah yang diterima oleh pesepakbola laki-laki (yang bermain di divisi utama) adalah 120.000 euro per tahun, sementara untuk pesepakbola perempuan adalah 0 euro. Benar, ada yang tidak menerima gaji karena walaupun klubnya bermain di divisi utama, namun status kompetisi ini bukanlah kompetisi profesional alias amatir. Bandingkan dengan Cristiano dan Messi yang masing-masing menerima gaji sebesar 18 juta euro dan 20 juta euro.

Ainhoa Tirapu de Goni, kiper klub Athletic Bilbao, harus bekerja di pagi hari di sebuah toko alat-alat olahraga berskala internasional bernama “Dechatlon” dan pada siang hari, dia menghadiri sesi latihan di klubnya. De Goni yang menyandang gelar sarjana kimia dan master di bidang environmental contagion dan toksikologi ini juga sedang melanjutkan pendidikannya ke jenjang doktor.

Pemain perempuan lainnya, seperti Natalia Pablos, yang saat ini bermain di Arsenal Ladies, sempat harus absen memperkuat tim nasional Spanyol selama dua tahun karena melanjutkan pendidikan ke jenjang master. Namun, karena kerja keras dan kualitasnya, Pablos mampu kembali ke tim nasional dan bahkan membawa timnas Spanyol lolos ke Piala Dunia 2015 (yang akan diselenggarakan di Kanada) untuk pertama kalinya dalam sejarah.

Di sisi lain, dukungan RFEF bagi tim nasional sepakbola Spanyol pun rendah. Vero Boquete, mengatakan bahwa RFEF hanya memberikan uang saku sebesar 30 euro per hari kepada para pemain perempuan. Jumlah itu hanya sepersepuluh kali dari uang makan yang diberikan oleh pebasket perempuan Spanyol yang bergabung ke pusat pelatihan timnas.

“Mengapa saya mengatakannya? Karena ini adalah kenyataan. Karena kami mewakili negara kami di level tertinggi tetapi kami tidak diperlakukan sebagaimana mestinya,” kata Boquete.

Menanggapi berbagai kesenjangan antara pesepakbola laki-laki dan perempuan di Spanyol, Vicente Temprado, Ketua Komite Sepakbola Perempuan mengatakan bahwa: “Saya yakin bahwa di sepakbola tidak ada “machismo” (chauvinisme laki-laki). Machismo adalah produk dari sebuah pendidikan di masa lalu. Saya rasa saat ini banyak orang menyukai sepakbola perempuan”.

Sebaliknya, Mari Mar Prieto, mantan pesepakbola Spanyol mengatakan bahwa: “Tidak dapat disangkal bahwa ada “machismo” di sepakbola. Jika tidak terjadi hal itu, maka kondisi sepakbola perempuan akan lebih baik. Dikatakan bahwa sepakbola perempuan tidak menghasilkan uang, tetapi mengapa tidak dibantu dan dipromosikan?” kata Prieto.

“Tidak menghasilkan uang” inilah yang juga menjadi argumen Florentino Perez, presiden klub Real Madrid, untuk tidak membentuk tim sepakbola perempuan, sementara tim-tim besar Spanyol lainnya seperti Barcelona, Atletico Madrid, Sevilla, Valencia, Real Sociedad, dan Athletic Bilbao telah memilikinya.

Terlepas dari semua permasalahan yang telah dijelaskan di atas, Spanyol, sebagai negara pihak yang meratifikasi Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination against Women (CEDAW) wajib memperhatikan nasib pesepakbola perempuan. Konvensi itu mengamanatkan bahwa tidak boleh ada diskriminasi terhadap perempuan dalam pekerjaan. Perempuan memiliki hak untuk pendapatan yang sama dan perlakuan yang setara dalam pekerjaan.

Perjalanan sepakbola perempuan Spanyol masih tertinggal jauh dari negara-negara Skandinavia, Jerman dan Amerika Serikat. Semua ini hanya dapat dicapai apabila semua pihak berperan, tidak hanya para pemain namun juga negara, Federasi sepakbola, masyarakat, dan pelaku sepakbola pada umumnya.

——

(Tulisan ini dimuat di : http://www.magdalene.co. Link lengkap tulisan ini dapat dilihat di : http://magdalene.co/news-405-pesepakbola-perempuan-di-spanyol-bermain-di-divisi-utama-namun-termarginalkan.html . Versi bahasa Inggris dari artikel ini dapat dilihat di : http://magdalene.co/news-406-women-players-play-second-fiddle-in-soccer-giant-spain-.html )

Mungkin memang saya saja yang terlalu naif atau terlalu “awam” sehingga saya pernah menganggap bahwa media olahraga bebas dari intrik-intrik politik olahraga, tidak seperti media umum yang kadang memang berpihak terhadap golongan politik tertentu. Pada tahun 2011, saya mulai rajin membaca Marca, dilanjutkan dengan As dan Mundo Deportivo setahun belakangan ini. Setelah lebih sering membaca ketiga media Spanyol itu, saya menjadi sadar bahwa media olahraga pun berpihak, sama dengan media umum. Berikut gambaran sekilas dari tiga media tersebut:

1. Marca

Marca adalah media olahraga terbesar di Spanyol. Terbit dengan format tabloid harian, Marca menjadi media cetak dengan pembaca terbanyak di Spanyol, melebihi harian umum. Harian ini memfokuskan diri pada berita-berita mengenai sepakbola, walaupun ada juga cabang olahraga lainnya seperti basket, tenis, dan otomotif. Markas Marca terletak di Madrid, dan faktanya, mereka lebih banyak memuat berita mengenai Real Madrid, terlepas dari ada 3 klub divisi utama Liga Spanyol lainnya yang bermarkas di Madrid (Atletico Madrid, Getafe, dan Rayo Vallecano). Banyak yang menuduh Marca memihak Real Madrid. Oscar Campillo, direktur Marca, pernah meyakinkan bahwa medianya adalah media bagi semua penggemar sepakbola. Meskipun demikian, pernyataan Campillo bertentangan dengan fakta bahwa Real Madrid mendapatkan pemberitaan paling banyak.

Hal pertama yang membuat tersentak dan sadar bahwa “media olahraga pun berpihak” adalah ketika saya membaca ulasan pertandingan Liga Champions musim 2012-2013 antara Borussia Dortmund-Malaga. Singkatnya, pada pertandingan tersebut wasit dianggap membuat keputusan kontroversial dengan mengesahkan gol Dortmund yang dianggap berbau offside. Hal yang menjadi sorotan saya di sini adalah cara sang wartawan menggambarkan pertandingan tersebut. Salah satu kalimat “tidak netral” yang saya temukan dalam artikel tersebut antara lain adalah :

No hay palabras que consuelen al malaguismo. No hay nada que se pueda escribir ni decir sobre la injusticia vivida anoche en Dortmund en sólo 71 segundo”

(“Tidak ada kata-kata yang dapat menghibur para penggemar Malaga. Tidak ada yang dapat dituliskan ataupun dikatakan mengenai ketidakadilan semalam di Dortmund (yang terjadi) hanya dalam jangka waktu 71 detik)

“Ketidakadilan”?? Well, belum apa-apa sang penulis sudah menyebut bahwa wasit melakukan ketidakadilan. Wasit juga manusia, mereka juga dapat melakukan kesalahan. Bisa saja sang wasit melakukan kesalahan pada saat memimpin pertandingan dan tidak bermaksud memberikan keuntungan kepada Dortmund.

Marca juga beberapa kali membuat “kampanye negatif”, salah satunya adalah “kampanye pemecatan Pellegrini” sebagai pelatih Real Madrid. Beberapa diantaranya ditunjukkan seperti contoh kover depan Marca di bawah ini :

NEGATIVE CAMPAIGN PELE

Terjemahan : Estas despedido Manolo : You’re fired, Manolo | Fuera : (Pellegrini) Out! | Vete ya : (You) Go away!

Selain itu, jika anda sering memperhatikan pertandingan yang dimainkan Real Madrid di Santiago Bernabeu dan pertandingan yang dimainkan Atletico di Vicente Calderon, Marca dipastikan muncul di papan-papan iklan stadion. Untuk memunculkan iklan di papan stadion tentunya bukanlah hal yang mudah. Kedua belah pihak harus mengadakan perjanjian. Jadi, tidak mengherankan apabila Marca hampir tidak pernah mengkritik keras kebijakan Real Madrid atau Atletico. Jika Marca mengkritik keras kebijakan Real Madrid atau Atletico, mungkin saja kedua media itu tidak dibolehkan “ngiklan” di stadion atau wartawan mereka tidak dibolehkan menumpang di pesawat yang membawa kedua tim ketika mereka melakukan perjalanan dalam rangka pertandingan tandang.

Dalam kasus kepindahan Angel Di Maria, Marca selalu berpegang pada pernyataan Ancelotti yang berkata bahwa “Di Maria sendirilah yang mengingingkan pergi” (lihat http://www.marca.com/2014/08/21/en/football/real_madrid/1408634693.html) dan Marca tidak pernah mengutip pernyataan Di Maria yang berkata bahwa “saya tidak pernah ingin pergi dari Real Madrid” (lihat http://www.espn.co.uk/football/sport/story/337367.html). Dua pernyataan yang bertentangan, tapi Marca hanya memuat satu pernyataan. Hal ini jelas tidak “cover both side” dan menggiring pembaca untuk percaya pada pernyataan yang dikeluarkan oleh Ancelotti.

2. As

Harian As juga bermarkas di Madrid. Format harian ini hampir sama dengan Marca, yaitu tabloid harian. Sama seperti halnya Marca, harian ini memfokuskan diri untuk mengulas sepakbola, dan lagi-lagi Real Madrid-lah yang paling banyak mendapatkan pembahasan.

Satu hal yang lagi-lagi membuat saya tersentak adalah bahwa ada seorang jurnalis yang secara terbuka mengakui bahwa dirinya pendukung Real Madrid. Sebenarnya tidak masalah apabila secara terbuka sang jurnalis memberikan pengakuan mengenai “ideologi sepakbola”-nya, akan tetapi menjadi masalah apabila dia berpihak dalam menulis opini.

Sang jurnalis ini bernama Tomás Gómez-Díaz Roncero, atau lebih populer dengan nama Tomas Roncero. Dia adalah redaktur desk Real Madrid di harian As. Mengapa saya katakan bahwa dia berpihak dapat dilihat dari contoh opini yang dia tulis di website As.com. Opini tersebut berjudul : “Fichemos Varios Españoles” (Kami Merekrut Berbagai Pemain Spanyol). Inilah cuplikan kalimat yang dilontarkannya di artikel tersebut :

Sé que lo primero es renovar a Cristiano y fichar a Bale. Pero cerremos ya la vuelta de Carvajal y, si se tercia, traigamos a uno de esos españolitos

(Saya tahu bahwa pertama-tama adalah memperpanjang kontrak Ronaldo dan merekrut Bale. Akan tetapi kami kembali merekrut Carvajal, dan jika ada kesempatan, kami merekrut pemain muda Spanyol)

Apabila Roncero mengaku sebagai jurnalis, seharusnya dia tidak menulis opini dengan kata ganti kami. Sepertinya dia tidak sadar bahwa tidak semua pembaca As adalah pendukung Real Madrid. Kesannya, Roncero ini seperti juru bicaranya Real Madrid.

3. Mundo Deportivo

Tabloid harian Mundo Deportivo bermarkas di Barcelona. Walaupun bermarkas di Barcelona, tabloid ini tidak menggunakan bahasa Katalan sebagai bahasa penutur, melainkan bahasa Spanyol. Sama seperti Marca dan As, sebagian besar tabloid ini fokus kepada liputan sepakbola, khususnya FC Barcelona (FCB). Rival FCB, yaitu Espanyol, tidak banyak mendapatkan tempat di tabloid ini. Tabloid ini juga memasang iklan mengenai produk klub Barcelona seperti yang terlihat di bawah ini :

???????????????????????????????

Sebagai pengiklan dan pemasang iklan, jelas keduanya saling menguntungkan. Mundo Deportivo mendapatkan pemasukan dari tarif iklan dan FCB memiliki potensi untuk mendulang keuntungan dari penjualan produknya. Jadi, tidak mengherankan apabila Mundo Deportivo kadang “diminta” untuk menulis berita yang berpihak kepada rezim pimpinan klub yang sedang berkuasa.

Kasus paling menonjol dari keberpihakan Mundo Deportivo, selain kepada Barcelona, adalah keberpihakan kepada Sandro Rosell dalam pemilihan presiden klub Barcelona pada 2010 lalu. Beberapa kali tabloid ini menjelek-jelekkan rezim Laporta, seperti terlihat dalam gambar artikel di Mundo Deportivo ini:

laporta 2

Di artikel tersebut disebutkan bahwa rombongan FCB menginap di hotel ketika tur Amerika Serikat dan biaya ditanggung oleh penyelenggara. Walaupun demikian, biaya ekstra tidak ditanggung oleh penyelenggara dan seharusnya dibayar sendiri oleh Barcelona. Yang menjadi masalah, disebutkan bahwa pihak klub FCB masih memiliki hutang sebesar USD127.797. Laporta sendiri membantah hal itu. Laporta juga pernah berkata bahwa : “Mundo Deportivo berkampanye mendukung Sandro Rosell”.

Media Olahraga Spanyol dan Tim Nasional Sepakbola Spanyol

Marca dan As sangat mendukung tim nasional Spanyol. Hal itu sudah tidak diragukan lagi. Berbeda halnya dengan Mundo Deportivo yang agak “sinis”. Situasi politik Spanyol mempengaruhi hal ini. Media Katalunya, termasuk media olahraga, tidak menganggap Katalunya sebagai bagian dari Spanyol. Dalam penulisan berita mengenai tim nasional, media Katalunya lebih fokus kepada kiprah para pemain Barcelona di tim nasional. Ya, sampai kapan pun olahraga tidak dapat lepas dari kondisi politik di suatu negara.

Tulisan ini juga dimuat di : http://laligaindonesia.wordpress.com/2014/11/16/media-olahraga-pun-berpihak/

Image

Nama Diego da Silva Costa memang tidak terlalu populer di kalangan penggemar sepakbola, tidak seperti Lionel Messi atau Cristiano Ronaldo. Walaupun demikian, dia menjadi pahlawan pada pertandingan derby Madrid dengan gol tunggal yang dicetaknya pada menit ke-11. Gol ini sekaligus memecahkan “kutukan” yang dialami Atletico selama 14 tahun belakangan ini, yaitu tidak pernah menang atas Real Madrid pada pertandingan Liga. Sebelumnya, Costa juga pernah mencetak  gol di Santiago Bernabeu, yaitu pada saat final Piala Raja 17 Mei lalu.

Perjalanan karir Diego Costa di sepakbola agak sedikit mengejutkan. Sang pemain tidak pernah bergabung dengan klub apapun sampai dengan usia 16 tahun. Lantas, dimana dia menghabiskan waktunya sampai dengan umur 16 tahun?? Tidak lain dan tidak bukan adalah di jalanan. Ya, dia dibesarkan di kota Lagarto, sebuah kota di Brasil yang menurutnya tidak mempunyai fasilitas olahraga ataupun lapangan rumput. Ketika Messi mendapatkan pengetahuan mengenai sepakbola di “La Masia”, Costa pernah mengakui bahwa “jalanan adalah sekolah saya”.

Pada saat berusia 14 tahun, Costa dan keluarganya pindah ke Sao Paulo. Disana, dia bergabung dengan klub sepakbola “Barcelona Esportivo Capel”. Ketika bermain di klub ini, dia pernah dihukum karena memukul pemain lawan dan mengancam wasit. Well, Costa ini bisa diibaratkan  “Mario Balotelli” ala Brasil. Dia pernah mengungkapkan bahwa ada satu hal negatif karena dia tidak pernah didaftarkan oleh orangtuanya ke akademi sepakbola. Berikut pernyataannya :

“Di lapangan, saya bertengkar dengan setiap orang, saya tidak dapat mengontrol diri saya, saya tidak punya respek terhadap lawan, saya pernah berpikir bahwa saya harus membunuh mereka. Anak yang tumbuh  di akademi sepakbola diajarkan untuk mengendalikan dirinya dan menghormati orang lain, akan tetapi tak seorangpun yang memberitahu. Saya terbiasa untuk melihat para pemain saling menyikut wajahnya satu sama lain dan saya pernah menganggap bahwa itulah aturannya”

Beruntung hal buruk tersebut tidak mempengaruhi karirnya ke depan. Menariknya, dia mendapatkan pengurangan hukuman dan pada tahun 2006 mendapatkan tawaran untuk bermain di klub asal Portugal, Sporting Braga. Jorge Mendes-lah yang berperan dalam kepindahannya. Mendes juga adalah agen dari para pemain bintang seperti Falcao, Cristiano Ronaldo, Pepe, Thiago Silva, Angel di Maria, dan pelatih Chelsea, Jose Mourinho.

Costa bergabung dengan Atletico Madrid pada tahun 2007, akan tetapi tidak pernah sekalipun berkostum Atletico pada 2 musim pertamanya. Dia malah dipinjamkan ke Braga, Celta Vigo, dan Albacete. Pada musim 2009-2010, dia dijual ke Real Valladolid dan kembali ke Atletico pada musim berikutnya. Pada bulan Juli 2011, Costa mengalami cedera cruciate ligament rupture yang cukup parah, sehingga mengharuskannya beristirahat selama 6 bulan.

Setelah sembuh dari cedera, lagi-lagi dia sempat dipinjamkan ke klub lain, kali ini ke Rayo Vallecano sampai berakhirnya musim 2011-2012. Di musim 2012-2013 inilah kehebatan Costa mulai mendapatkan perhatian. Diduetkan dengan Radamel Falcao, kedua striker ini menyumbang total 54 gol bagi klubnya pada musim 2012-2013 (Costa menyumbang 20 gol, sementara Falcao menyumbang 34 gol). Kelebihan sang pemain dapat dideskripsikan secara singkat : kuat secara fisik, agresif, dan punya kemampuan dalam duel-duel di udara. Para pemain bertahan seringkali terpaksa menghentikannya apabila diperlukan. Satu hal yang menjadi catatan buruk dari Costa adalah tempramen-nya yang meledak-ledak, yang kadang merugikan dirinya sendiri dan timnya. Pelatih Atletico, Diego Simeone bahkan pernah beberapa kali menariknya keluar dan menggantikannya dengan pemain lain karena takut sang pemain terkena kartu merah akibat tidak dapat mengendalikan emosinya.

Kehebatan Diego Costa pun menarik perhatian pelatih timnas Brasil, Luis Felipe Scolari. Costa sempat dipanggil untuk memperkuat timnas Brasil pada pertandingan persahabatan melawan Italia dan Rusia pada bulan Maret 2013. Sayangnya, Costa tidak dipanggil untuk memperkuat timnas Brasil pada Piala Konfederasi. Sampai saat ini, Costa tidak pernah bermain pada pertandingan resmi dengan timnas Brasil.

Melihat penampilannya yang impresif, cukup mengherankan apabila pada pertandingan selanjutnya dia kembali tidak dipanggil oleh Scolari. Kendati demikian, Costa tidak perlu khawatir karena dia masih memiliki opsi kedua : memperkuat timnas Spanyol. Ya, Costa resmi menjadi warganegara Spanyol pada tanggal 5 Juli 2013 setelah disumpah di hadapan catatan sipil di Madrid. Dia diuntungkan dengan peraturan FIFA yang memungkinkannya untuk memperkuat timnas Spanyol karena dirinya belum pernah tampil pada pertandingan resmi bersama Brasil. Pada saat ini, Federasi Sepakbola Spanyol (RFEF) sedang mengirimkan permintaan kepada federasi sepakbola dunia (FIFA) agar Costa dapat memperkuat timnas Spanyol.

Selain itu, Costa juga pernah mendapatkan tawaran dari Liverpool pada bursa transfer musim panas lalu namun dia memilih bertahan di klubnya saat ini, Atletico Madrid. Keinginan Liverpool untuk menggaet pemain berusia 24 tahun ini sangat serius. Liverpool berencana menaikkan penghasilannya 3 kali lipat dibandingkan yang diterimanya pada saat itu, namun memang bukan hanya uang yang semata-mata menjadi pertimbangan sang pemain.

Berikut penuturannya mengenai tawaran dari Liverpool :  “Kesempatan itu ada, bahkan hampir saya ambil. Liverpool tim hebat tetapi setelah bekerja keras menuju skuad utama, bagaimana bisa saya meninggalkan tim? Saya pikir sangat penting bertahan dan berkembang bersama Atletico. Saya ingin bermain di sini untuk beberapa musim ke depan. Saya mendapat kepercayaan penuh dan merasa dihormati di sini. Saya sudah lama mengenal sepakbola dan benar-benar bisa mencintai klub. Cara terbaik memperlihatkan rasa cinta adalah bermain semaksimal mungkin, ini pandangan saya”, katanya.

“Memperlihatkan rasa cinta dengan bermain semaksimal mungkin”. Itulah yang dilakukannya pada pertandingan melawan Real Madrid di Stadion Santiago Bernabeu pada bulan Mei lalu. Satu dari 2 gol Atletico dicetak olehnya sekaligus memastikan Atletico menjadi juara. Dia kembali menjadi pahlawan kemenangan timnya pada derby pertandingan liga. Satu gol yang diciptakannya pada menit ke-11 cukup untuk membungkam Madrid yang diperkuat dengan para pemain bintang  bergaji sangat tinggi. Ya, kadang uang tidak menjamin suatu tim untuk meraih kemenangan. Diego Costa bersama timnya telah membuktikan hal tersebut.