Tag Archive: gaya hidup


Every children need space to grow up and express themselves. One of the way to do it is by playing game. As a 1980s generation, I played many “traditional” games when I was a child. Most of them were played outdoor. Since I was a born until age of 7, I lived with my parents in my grandmother’s house. The house was large, it was 400 square feet. I could play anything without needing to go outside my house. At that time, my parents were not allowed me to play outside my house because there were so many motor vehicles around the street. My house was located near Jalan Utan Kayu, where many vehicles passing by.

Because my house was quite large, I could play anything inside. I used to play hide and seek with my brothers and friends. Other activities that we did was playing on the swing. I remember that there was a rambutan tree in my house. One day, I decided to make a wooden swing set by using rope and triplex. I tied the rope to rambutan tree and put the triplex as if it was a chair. Besides rambutans tree, we had guava, mango, and starfruit tree. My other activity was climbing trees to eat fruits. When I was hungry and my mother hadn’t finished cooked, I climbed a tree and ate fruit.

Unfortunately, in December 1990, the house was sold and we moved to Pondok Gede. There, we rented a house for 1 year until finishing our own house construction. The house was located in an alley, well, not a small one but it was safe to play outside. What I did in my leisure time was playing “benteng” with my neighbors, Reni and Ricky, who lived in front of my house.

A year after that, we moved to our own house. I had new friends and did lot of activities outside. I could said that every day, from 4 to 6 pm, I went to a small court to play badminton, basketball or volleyball, and sometimes football. If I didn’t want to play outside because of one and other reasons, I played monopoly or chess. And sometimes I played football with my brothers in terrace. Besides playing sports, I also caught guppy fish (in Indonesian : “ikan cere”) in gutter.

How about now? Well to be honest, I almost never seen children playing traditional game. Perhaps the main reason is the effect of modern games such as PlayStation and gadgets. I wouldn’t say that they are useless but in my opinion, children should spend more time outside the house.

Other factors that trigger this situation is lack of open space such as parks. For example, how many property developer that commit to provide park for residences? And how many public parks built by city government? I remember a scene in “Garuda di Dadaku” the movie. Some boys played football in a cemetery because there are no football field near their house. It’s a sad reality, isn’t it?

Some experts said that there’s a growing evidence that park environments play a unique role in promoting stress and alleviating stress. It has been shown that communities without parks, particularly in economically disadvantaged areas, have unhealthier children. Research indicates that communities without parks and playgrounds often lead to sedentary children and stressful lives.

Well, now it’s the time for city government to rethink about the future of children by fulfilling children’s right to play, by giving them access to open space. Parents also should encourage their children to do healthier activities.

Kalian Suka Sepakbola???

Image

sumber foto : http://krjogja.com/photos/12d59b8f44228ffef11edcfac898eb5b.jpg

Terkait dengan judul tulisan di atas, orang yang kenal dekat dengan saya biasanya mengerti apakah saya benar-benar bertanya atau sedang melontarkan kalimat sarkastis. Sudah lama sebenarnya saya ingin menulis mengenai fenomena ini karena beberapa tahun belakangan ini saya mempunyai “hobi” baru, yaitu mengamati tingkah laku seseorang. Dan yang kali ini saya sorot adalah tingkah laku sebagian orang yang “terlihat” seperti penggemar sepakbola. Saya tekankan di kata “terlihat” karena bisa saja mereka tidak benar benar menggemari sepakbola.

Entah kapan mulai muncul trend “ikut-ikutan menyukai sepakbola”. Namanya juga trend, seperti layaknya pakaian yang sedang trend, sebuah gaya hidup dianggap wajar wajar saja apabila sedang trend. Sedikit cerita mengenai diri saya. Saya menyukai sepakbola sejak tahun 1994 dan tidak ada orang yang mempengaruhi saya untuk menyukai sepakbola, bahkan ayah dan adik laki laki saya pun tidak suka sepakbola.

Kenapa saya bisa suka? Salahkan Piala Dunia 1994. Saya hanya nonton pertandingan final antara Brasil dan Italia. Dan dari situ saya suka Paolo Maldini, seorang bek tangguh. Entah kenapa saya cenderung mengagumi pemain belakang dan……kiper. Oh iya, saya juga pernah bermain sepakbola, tapi dengan teman-teman lelaki karena pada saat itu tidak ada perempuan yang bermain sepakbola. Hal ini pun saya lakukan secara diam-diam tanpa sepengetahuan orangtua karena mereka melarang saya bermain sepakbola dengan laki-laki.

Orangtua saya tidak masalah dengan hobi saya menonton sepakbola, tetapi ketika kawan kawan saya di SD mengetahui bahwa saya suka sepakbola, mereka menganggap saya aneh. Mereka menganggap bahwa perempuan tidak pantas menyukai sepakbola, Padahal saat itu saya tahu bahwa Swedia mempunyai timnas perempuan. Toh tidak ada salahnya saya menyukai sepakbola. Saya tetap pada pendirian saya dan saya tidak merasa ada yang salah di dalam diri saya. Dan sampai saat ini sepakbola menjadi bagian dari kehidupan saya.

Kembali lagi ke masalah “cari perhatian” dengan pura pura suka sepakbola. Suatu hari ketika sedang berada di transjakarta, saya mendengar percakapan yang saya dengar antara 2 orang remaja putri SMA. Karena saya tidak tahu nama mereka, sebut saja mereka: A dan B. Kira kira beginilah percakapan antar mereka :

A : “Elu suka tim apa sih?”

B : “Hmmmm, MU kali yeee….tapi gebetan gue suka MU juga nggak ya? ”

Saya yang sedang asyik membaca buku sontak antara kaget dan ingin tertawa terbahak-bahak mendengar percakapan tersebut. Sayangnya nanti saya dibilang gila karena tertawa sendiri, akhirnya saya pun terpaksa menahan tawa. Haduh….hari gini ikut-ikutan suka sepakbola untuk cari perhatian ke cowok yang disukai. Please girls….be yourself….! Saya pun tidak  pernah berpura-pura menyukai olahraga F1 😀 . Di lain hari, seorang follower saya di twitter menulis status : “Ser del Barça es, el millor que hi ha”. Kemudian muncullah naluri keisengan saya. Saya tanya arti kalimat tersebut. Dia tidak menjawabnya, entah karena tidak tahu atau karena malas menjawab 😀 . 

Berpura pura suka sepakbola untuk cari perhatian juga bukan hanya dilakukan seperti si B tadi yang membicarakan “gebetannya”, Ada juga yang ikut-ikutan pasangannya mengenakan kaus tim sepakbola yang sama dengan pasangannya. Suatu hari setelah selesai berlatih futsal, saya pernah bertanya kepada seorang perempuan yang mengenakan kaus Real Madrid : “Mbak ikutan fans klub Real Madrid?….”. Dia menjawab : “Nggak mbak, saya ngga ngerti, cuma ikut-ikutan aja”. Dalam hati saya berkata : “Wah, perempuan ini lebih “jujur” karena dia bilang bahwa hanya ikut-ikutan”. Sepertinya dia sedang menonton pacarnya yang sedang bermain futsal, karena dia duduk di bangku dekat lapangan sambil mengarahkan pandangannya ke lapangan.

Alasan lain (yang jelas hal ini perempuan) yang membuat seseorang suka sepakbola adalah karena pemainnya yang ganteng-ganteng. Ya, memang tidak semua pemain sepakbola ganteng-ganteng, tapi ada seseorang di kontak BBM saya (saya tidak perlu sebut nama dia) yang mengakui hal itu. Bahkan dia pernah nitip saya untuk dibelikan kaus timnas Spanyol. Soal pemain ganteng ini, siapa sih yang tidak suka melihat orang ganteng?? Saya pun suka, namun hal itu bukan jadi patokan saya untuk memilih pemain favorit atau tim favorit. Maldini kebetulan memang ganteng, tapi banyak yang lebih ganteng. Iker Casillas memang ganteng (kiper favorit saya sejak tahun 2000), tapi Victor Valdes (kiper Barcelona) lebih ganteng. Walaupun demikian saya tidak suka Valdes. Dan perlu diingat bahwa selain Milan dan Madrid, saya juga suka Arsenal. Saya suka Arsenal karena ada David Seaman, seorang kiper yang saya anggap hebat dibanding kiper-kiper timnas Inggris dalam beberapa tahun terakhir ini. Dan dia nggak ganteng lho :D.

Sejujurnya saya sering kesal kalau semua perempuan yang suka sepakbola dianggap bahwa mereka suka sepakbola karena pemainnya yang ganteng. Saya tidak seperti itu karena saya pernah rela nonton timnas Indonesia di Stadion GBK sendiri di malam hari, sampai sampai saya harus bolos kelas bahasa Perancis dan mencari tiket di calo dalam kondisi panas terik :D. Itulah untuk pertama kalinya saya menonton sepakbola di stadion, tepatnya pada Piala Asia 2007.

Fenomena “ikut-ikutan” lainnya adalah banyaknya orang (baik laki-laki dan perempuan) yang mengenakan jersey Barcelona. Berdasarkan pengamatan saya, setiap hari minimal ada 1 orang yang mengenakan jersey Barcelona. Mulai dari yang sedang jalan di mall, berolahraga renang (mungkin saking cinta dengan Barcelona sampai rela berbasah basahan di kolam renang dengan jersey tim favoritnya :p), sedang mencari uang dengan menjadi joki 3 in 1, sampai dengan penjual minyak keliling. Presiden klub Barcelona, Sandro Rosell pasti sangat senang apabila datang kesini karena banyak sekali penggemar Barcelona yang berada disini. Itu berarti dia sukses dalam hal memasarkan produk produknya. Selamat ya om Sandro….pasti anda terpilih lagi di kampanye presiden klub selanjutnya.

Tidak hanya orang-perorang yang bisa cari perhatian mengatasnamakan sepakbola, bahkan ada juga sebuah media yang memberikan kesempatan kepada perempuan untuk menjadi “Soccer Babes”. Mungkin saya terdengar sinis atau nyinyir atau sarkasitis, tapi inilah pendapat saya : “kalau memang mau adil, pemilihan “soccer babes” itu jangan hanya mengandalkan tampang saja, cobalah kontestan tersebut dites mengenai pengetahuan soal sepakbola”. Well, dunia memang tidak adil…..namanya juga media yang merupakan bagian dari bisnis. Sah-sah saja mereka membuat kontes semacam itu walaupun buntut-buntutnya sang pemenang hanya dinilai berdasarkan cantik saja. Ah, cantik pun relatif. Seperti seseorang menganggap bahwa saya cantik ala sosialis.  Lho kok jadi melenceng begini…hahahah 😀 😀 . Intinya, jadilah dirimu sendiri, jangan ikut-ikutan. Seperti kata Kurt Cobain : “I’d rather be hated for who I am than loved for who I am not”.