Tag Archive: diskriminasi jender


Jika Anda penggemar sepakbola, Anda mungkin mengetahui bahwa Liga Sepakbola Spanyol, La Liga, adalah salah satu Liga terbaik di dunia. Pemain paling terkenal Spanyol, Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi, menjadi incaran dari merek-merek olahraga terkenal di seluruh dunia. Menurut laporan majalah Forbes mengenai peringkat atlet berpenghasilan terbesar di dunia, Ronaldo berada di peringkat ke-2 dalam daftar atlet terkaya di dunia, sementara itu Messi menempati peringkat ke-4 .

Di tengah ingar bingar kompetisi sepakbola Spanyol, ada banyak pesepakbola perempuan yang nasibnya sangatlah berbeda dengan para pesepakbola laki-laki pada umumnya. Secara kultur, Spanyol bukanlah negara yang melarang perempuan untuk beraktivitas di dunia olahraga, namun hampir mustahil untuk mendapat penghasilan sebagai pesepakbola profesional jika Anda perempuan.

Di Spanyol, mayoritas pesepakbola perempuan menekuni profesinya sambil melakukan pekerjaan lainnya atau sambil belajar di sekolah. Tidak seperti di Amerika Serikat, di mana sepakbola populer di kalangan perempuan, di Spanyol sepakbola perempuan tidak dianggap sebagai kompetisi profesional. Banyak klub yang memberikan gaji di bawah standar bahkan ada klub yang sama sekali tidak memberikan gaji. Terminologi profesional yang dimaksud di sini adalah ada kontrak dalam jangka waktu tertentu, ada tunjangan, terlindungi oleh jaminan sosial, dan sesuai dengan aturan gaji minimal”.

Vero Boquete, pemain asal Spanyol yang bermain di FFC Frankfurt, menjelaskan mengenai masalah kontrak profesional yang dimiliki oleh para pesepakbola perempuan: “Jika kita mendalami data Federasi Sepakbola Spanyol (RFEF), di negara kami (Spanyol), hanya 31 pesepakbola perempuan yang dikontrak secara profesional sementara ada 2.660 pesepakbola laki laki yang dikontrak secara profesional.”

Kesenjangan pendapatan berdasarkan gender bahkan lebih dalam lagi. Berdasarkan data tahun 2013, rata rata gaji yang diterima oleh pesepakbola laki-laki yang bermain di divisi utama adalah 1,1 juta euro per tahun, sementara gaji rata rata yang diterima oleh pesepakbola perempuan adalah 5000 euro. Lebih lanjut, gaji terendah yang diterima oleh pesepakbola laki-laki (yang bermain di divisi utama) adalah 120.000 euro per tahun, sementara untuk pesepakbola perempuan adalah 0 euro. Benar, ada yang tidak menerima gaji karena walaupun klubnya bermain di divisi utama, namun status kompetisi ini bukanlah kompetisi profesional alias amatir. Bandingkan dengan Cristiano dan Messi yang masing-masing menerima gaji sebesar 18 juta euro dan 20 juta euro.

Ainhoa Tirapu de Goni, kiper klub Athletic Bilbao, harus bekerja di pagi hari di sebuah toko alat-alat olahraga berskala internasional bernama “Dechatlon” dan pada siang hari, dia menghadiri sesi latihan di klubnya. De Goni yang menyandang gelar sarjana kimia dan master di bidang environmental contagion dan toksikologi ini juga sedang melanjutkan pendidikannya ke jenjang doktor.

Pemain perempuan lainnya, seperti Natalia Pablos, yang saat ini bermain di Arsenal Ladies, sempat harus absen memperkuat tim nasional Spanyol selama dua tahun karena melanjutkan pendidikan ke jenjang master. Namun, karena kerja keras dan kualitasnya, Pablos mampu kembali ke tim nasional dan bahkan membawa timnas Spanyol lolos ke Piala Dunia 2015 (yang akan diselenggarakan di Kanada) untuk pertama kalinya dalam sejarah.

Di sisi lain, dukungan RFEF bagi tim nasional sepakbola Spanyol pun rendah. Vero Boquete, mengatakan bahwa RFEF hanya memberikan uang saku sebesar 30 euro per hari kepada para pemain perempuan. Jumlah itu hanya sepersepuluh kali dari uang makan yang diberikan oleh pebasket perempuan Spanyol yang bergabung ke pusat pelatihan timnas.

“Mengapa saya mengatakannya? Karena ini adalah kenyataan. Karena kami mewakili negara kami di level tertinggi tetapi kami tidak diperlakukan sebagaimana mestinya,” kata Boquete.

Menanggapi berbagai kesenjangan antara pesepakbola laki-laki dan perempuan di Spanyol, Vicente Temprado, Ketua Komite Sepakbola Perempuan mengatakan bahwa: “Saya yakin bahwa di sepakbola tidak ada “machismo” (chauvinisme laki-laki). Machismo adalah produk dari sebuah pendidikan di masa lalu. Saya rasa saat ini banyak orang menyukai sepakbola perempuan”.

Sebaliknya, Mari Mar Prieto, mantan pesepakbola Spanyol mengatakan bahwa: “Tidak dapat disangkal bahwa ada “machismo” di sepakbola. Jika tidak terjadi hal itu, maka kondisi sepakbola perempuan akan lebih baik. Dikatakan bahwa sepakbola perempuan tidak menghasilkan uang, tetapi mengapa tidak dibantu dan dipromosikan?” kata Prieto.

“Tidak menghasilkan uang” inilah yang juga menjadi argumen Florentino Perez, presiden klub Real Madrid, untuk tidak membentuk tim sepakbola perempuan, sementara tim-tim besar Spanyol lainnya seperti Barcelona, Atletico Madrid, Sevilla, Valencia, Real Sociedad, dan Athletic Bilbao telah memilikinya.

Terlepas dari semua permasalahan yang telah dijelaskan di atas, Spanyol, sebagai negara pihak yang meratifikasi Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination against Women (CEDAW) wajib memperhatikan nasib pesepakbola perempuan. Konvensi itu mengamanatkan bahwa tidak boleh ada diskriminasi terhadap perempuan dalam pekerjaan. Perempuan memiliki hak untuk pendapatan yang sama dan perlakuan yang setara dalam pekerjaan.

Perjalanan sepakbola perempuan Spanyol masih tertinggal jauh dari negara-negara Skandinavia, Jerman dan Amerika Serikat. Semua ini hanya dapat dicapai apabila semua pihak berperan, tidak hanya para pemain namun juga negara, Federasi sepakbola, masyarakat, dan pelaku sepakbola pada umumnya.

——

(Tulisan ini dimuat di : http://www.magdalene.co. Link lengkap tulisan ini dapat dilihat di : http://magdalene.co/news-405-pesepakbola-perempuan-di-spanyol-bermain-di-divisi-utama-namun-termarginalkan.html . Versi bahasa Inggris dari artikel ini dapat dilihat di : http://magdalene.co/news-406-women-players-play-second-fiddle-in-soccer-giant-spain-.html )

World Cup 1994 will always live in my memory. That event has marked my whole life towards football. Although I only watched final match (between Brazil and Italia), I was so impressed. Since that day, I considered myself as a football lover.

At that time, girls who love football were considered as an abnormal girl, simply because in Indonesia almost people had never seen a girl play football. In reality, Indonesia had a famous football player, Muthia Datau. She was a goalkeeper of Indonesian national female football in 1980s. At that time Indonesia also had a female football league called “Galanita” (Liga Sepakbola Wanita / Female Football League)’

My parents knew my affection towards football. They didn’t prohibit me from watching football match but prohibited me from playing football with boys. The problem was that i didn’t have female friends who liked playing football. Many times, without my parents knowing, I played football with boys.

The boys didn’t mind if I joined them to play. They never mocked me. My teachers and my friends in junior high school also knew that I love football. Sadly, most of them who mocked me by calling me “tomboy” are female (friends and teachers). They couldn’t understand why a girl love football. They thought that football is a game exclusively for men. I told them that in Sweden, it is common for women to play football. Even Sweden has its female national team. I kept thinking why women can’t do what men can do. It was a unanswerable question for years.

When I studied in Faculty of Law, University of Indonesia, there was a sport competition and  indoor football was one of them. I was so happy because I could play it with female friends. Few of them even played indoor football when they were in senior high school. I always played as a goalkeeper, because I realized that I couldn’t dribble well. Being a goalkeeper is not easy. You shouldn’t be afraid of falling and you should be tough. I always enjoy being a goalkeeper until now.

In 2004 I took an interesting elective course called : “Women and Law”. I always feel lucky to take that course because it changed my life forever. In the course, I learnt a new word : “gender stereotype”. Males are expected to demonstrate certain characteristics and behaviours that are “masculine”, while females are responsible for being “feminine”. Traditionally, females have been expected to wear dresses, cook, clean, raise children, maintain a beautiful body, and remain passive. Female considered as a “weaker sex”, physically, mentally, and emotionally. This expectation of femininity often results in women being marginalized from participating and competing in physical activities, including football.

Society expects women to be “ladylike”, not demonstrate characteristics that are defined as being masculine. However, when women “cross the line” and exhibit these so-called masculinity, their gender identity, sexual orientation and behavior are often questioned. I felt empowered by taking the course. Finally, my question was answered. Since the day I took the course, I was proclaimed myself as a feminist.

In 2007, I joined a community of football fan called Milanisti Indonesia. I met some girls who are interested in playing indoor football. After that, we formed an indoor football team. We have participated in many friendly and official matches. Winning or not is not the main purpose. The most important is that we, as women, can play football without being stereotyped. Because football is universal , and has no gender, ethnic, or race.

Milanisti Indonesia in Indo Manchester United's tournamen (2009)

Milanisti Indonesia in Indo Manchester United’s tournamen (2009)

1924176_34743043966_389_n

Milanisti Angels , in a friendly match in 2009

133182_10151255825013967_1671418837_o

Bolanet futsal tournament, in 2012

175504_10151253237348967_1808047509_o

With the coach. Bolanet futsal tournament 2012

Myself as a goalkeeper, defended Arsenal Fan club futsal team.

Myself as a goalkeeper, defended Arsenal Fan club futsal team.

Image

(Sumber foto : http://static.goal.com/201600/201617hp2.jpg )

Sepakbola selalu diidentikan sebagai hal yang berbau maskulin. Selalu meneguhkan bahwa estetika permainan sepakbola mengajarkan suatu maskulinitas tradisional.

Jadi saat wanita terlibat langsung dalam sepakbola, selalu muncul stereotip bahwa  “sepakbola akan membuat wanita menjadi laki-laki”, “olahraga akan membahayakan kesehatan wanita”, “wanita tidak memiliki kemampuan untuk berolahraga” atau “wanita tidak tertarik untuk berkompetisi”.

Menurut stereotip partriarkis, lelaki dilahirkan untuk “mendominasi, bersaing, dan berjuang”, sebaliknya wanita diharuskan untuk “memahami, memiliki sifat penurut, bersolidaritas, serta menunjukkan ketenangan.

Menurut Ana Bunuel Heras, seorang sosiolog asal Spanyol, olahraga adalah sebuah lapisan sosial yang sempurna untuk mempertunjukkan identitas maskulin, yaitu agresi dan rivalitas yang diatur oleh peraturan tertentu.

Dalam buku berjudul “Del Juego Al Estadio” karangan Jacobo Rivero dan Claudio Tamburrini, dikatakan bahwa olahraga memiliki arti bahwa laki-laki lebih baik. Hal itu diciptakan melalui fakta bahwa cabang olahraga paling terkenal dan mendapatkan bayaran lebih baik adalah cabang olahraga yang dimainkan oleh laki-laki.

Diskriminasi Sepakbola Wanita di Inggris

Keterlibatan wanita di sepakbola telah berlangsung sejak lama. Ada bukti-bukti bahwa wanita telah bermain sepakbola sejak masa Dinasti Han di Cina. Sejarah sepakbola modern sendiri berawal di Inggris, termasuk sepakbola wanita.

Dalam laporan FA, pertandingan resmi pertama sepakbola wanita di Inggris digelar antara tim yang mewakili London Utara melawan London Selatan. Tim utara menang telak 7-1 atas tim selatan.

Sayangnya pada tahun 1921 FA melarang penyelenggaraan kompetisi sepakbola wanita. Alasannya bahwa sepakbola tidak cocok dan tak dianjurkan dimainkan oleh wanita.

Di masa itu ada bukti nyata bahwa lahirnya sepakbola perempuan sebagai ancaman terhadap permainan laki-laki.  Lewat tim “Dick, Kerr Ladies XI” yang terkenal menjadi luar biasa sukses, FA pun panik.

Selama tahun 1921, mereka melangsungkan 67 pertandingan di Inggris dan mampu menyedot penonton hingga 900.000 orang. Tim ini sempat melakukan tur internasional dan tak terkalahkan di kandang melawan klub-klub pria. Pada akhirnya, lewat kekuatannya FA menginstruksikan klub untuk tak menyewakan lapangan mereka pada wanita.

Perlu waktu hampir setengah abad hingga akhirnya sepakbola wanita diakui secara mutlak. Dogma stereotip FA yang kolot terhadap wanita  bahkan perlu didobrak lewat bantuan UEFA. Dibentuklah Women’s Football Association (WFA) pada tahun 1969.  WFA sendiri sebenarnya terpisah dari FA.

Perkembangan sepakbola wanita yang semakin pesat ternyata menggiurkan FA.Hingga pada akhirnya mengambil alih penyelenggaraan liga sepakbola wanita pada tahun 1994.

Melawan Diskriminasi Terhadap Sepakbola Wanita di Spanyol

Tak hanya di Inggris, pesepakbola wanita Spanyol pun menjalani cerita yang sama.

Dalam rangka memperingati Hari Wanita Internasional yang diperingati pada tanggal 8 Maret lalu, Komisi Serikat Pekerja Spanyol mengunggah video di Youtube yang berjudul “Te Juegas Mucho”. Video itu menggambarkan kondisi pesepakbola wanita di Spanyol yang sering mengalami diskriminasi.

Maria Jose Lopez, Sekjen Asosiasi Pesepakbola Wanita Spanyol mengatakan regulasi pengakuan sepakbola wanita amatlah bertumpang tindih. Ibarat mata uang dua sisi, dalam undang-undang yang membahas kesetaraan gender pemerintah diwajibkan untuk memberdayakan atlet wanita.

Tapi disisi lain, dalam dekrit Kerajaan mengenai Federasi Olahraga Spanyol  dijelaskan bahwa hanya mengakui satu kompetisi olahraga profesional berdasarkan jenis kelamin. Jadi jika ada kompetisi olahraga profesional untuk laki-laki, maka tidak ada kompetisi olahraga profesional untuk wanita.

Hal ini menegaskan bahwa status pesepakbola wanita di Spanyol semuanya masih dalam status amatir.  Liga dan klub yang menaungi mereka pun berstatus amatir.

Masalah muncul karena banyak diantara mereka yang tidak dikontrak secara profesional. Ketiadaan kontrak secara profesional mengakibatkan tidak adanya perlindungan dan jaminan sosial, terlebih jika mereka mengalami cedera dan hamil.

“Apa yang terjadi jika seorang pesepakbola wanita hamil? kontrak mereka dapat diputus dan mereka tidak mendapatkan apapun” ucap Maria Jose Lopez.

Perjuangan Melawan Madrid yang Bebal

Pada tahun 2009 presiden Real Madrid Florentino Perez  mengeluarkan pernyataan mencengangkan ketika diwawancarai harian El Confidencial terkait alasan mengapa Real Madrid tak memiliki tim sepakbola wanita.

Perez berkata bahwa sepakbola wanita tidak menguntungkan secara ekonomi dan tidak menarik. Hal ini tentu saja tak logis, mengingat pesain-pesaing mereka di La Liga seperti i Athletic Bilbao, Atletico Madrid, Barcelona, Real Sociedad, Sevilla, dan Valencia telah memiliki tim sepakbola wanita.

Ana Rosell, seorang socia (anggota klub) Real Madrid dan mantan kapten tim sepakbola wanita Atletico Madrid, sedang mengerjakan proyek untuk membentuk tim sepakbola wanita Real Madrid yang telah ia mulai sejak tahun 1998. Sayang, hasilnya selalu nihil.

“Pada kurun waktu tersebut saya telah menulis surat kepada semua presiden klub dan responnya selalu negatif. Saya sempat dekat dengan Mijatovic yang pernah menjadi direktur teknik, namun kepindahannya menghambat saya dan terakhir kali saya kembali melakukannya dengan Florentino Perez. Pihak klub selalu mengatakan tidak, karena alasan ekonomi dan profit. “ ucap Rossel.

Saat ditanya mengapa El Real perlu membentuk tim wanita,  Rossel menjawab ada simbiosis mutualisme diantara keduanya. Sepakbola wanita memerlukan Real Madrid karena Madrid adalah tim tersukses di dunia yang semua orang berpatok membangun klub darinya.

Di lain sisi ada sisi pencitraan yang bisa dimanfaatkan Madrid  yang dilihat dari aspek image, tanggung jawab sosial dan prestise di dunia internasional.

Semua klub-klub besar di Spanyol dan Eropa memiliki tim sepakbola wanita yang berada di papan atas. UEFA serta FIFA pun tak henti mendorong pengembangan sepak bola wanita. Akan menjadi sebuah hal yang memalukan apabila sebuah klub besar seperti Real Madrid tidak berpartisipasi pada proyek ini.

Secara kultural Eropa bukanlah suatu tempat yang dimana perempuan dirongrong untuk tak terlibat langsung dalam sepakbola seperti di belahan negara lain. Kasus Real Madrid adalah hal yang cukup unik. Ucapan Perez diatas adalah penegas bahwa dalam sepakbola hitung-hitungan profit tentu lebih penting ketimbang memberikan hak kepada kaum wanita untuk bermain sepakbola.

 

(Tulisan ini dimuat di http://www.panditfootball.com . Link lengkap dari tulisan ini dapat dilihat di : http://www.panditfootball.com/diskriminasi-terhadap-wanita-di-dunia-sepakbola/ )