Sumber : voxpopuli.com

Sumber : voxpopuli.com

“Ya basta!” (cukup!), mungkin dapat menjadi kata-kata yang “mewakili” perasaan anggota tim nasional (timnas) perempuan Spanyol dan para penggemarnya. Kegagalan mereka lolos ke 16 besar sungguh di luar perkiraan.

Slogan yang selama ini didengung-dengungkan, soñar en grande (bermimpi besar) tidaklah cukup untuk mewujudkan mimpi mereka. Slogan-tetaplah hanya sebaris kalimat jika tidak dilengkapi berbagai prasyarat dasar yang dibutuhkan untuk mencapai kesuksesan. Apalagi di level setinggi Piala Dunia, motivasi jelas tidaklah cukup.

Permasalahan utama sepakbola perempuan Spanyol bukan terletak pada ketiadaan kompetisi profesional, melainkan karena minimnya dukungan. Selain itu, ada masalah lain yang lebih rumit, menyeluruh, dan telah berlangsung sejak lama.

“Dosa-Dosa” RFEF

RFEF (Federasi Sepakbola Spanyol) tidak banyak merencanakan pertandingan persahabatan dalam rangka persiapan Piala Dunia 2015. Sejak timnas perempuan lolos ke putaran final pada tanggal 13 September 2014, tim asuhan Ignacio Quereda ini hanya memainkan 5 pertandingan persahabatan dalam rentang waktu antara tanggal tersebut hingga bulan Juni 2015. Kelima pertandingan itu adalah pertandingan melawan Austria, Belgia, Selandia Baru (2 kali), dan Irlandia. Sementara itu, lawan-lawan mereka memainkan 10 hingga 12 pertandingan persahabatan sebelum Piala Dunia.

RFEF memang membantu para pemain dalam hal publikasi dan promosi melalui jejaring sosial seperti membuat video untuk memperkenalkan “para srikandi sepakbola” dan merekam pernyataan para pesepakbola laki-laki sebagai tanda dukungan terhadap rekan satu profesi. Namun, dukungan keuangan jauh dari yang diharapkan.

Ketika terkuak bahwa para pesepakbola perempuan hanya mendapatkan uang saku 25 euro per hari selama 20 tahun terakhir, banyak orang yang terkejut. Setelah hal itu terungkap ke publik, RFEF menjanjikan kenaikan uang saku. Akhirnya, mereka memang melakukannya akan tetapi kenaikan itu hanya sebesar 15 euro. Jumlah ini bahkan lebih kecil daripada uang saku yang diterima para pemain timnas junior laki-laki.  Bahkan, timnas basket perempuan Spanyol mendapatkan uang saku sebesar 300 euro per hari.

Perjalanan timnas Spanyol ke Kanada pun tidak luput dari masalah. Mereka tiba di Kanada 4 hari sebelum pertandingan pertama. Mengingat adanya perbedaan waktu dan iklim antara kedua negara serta periode adaptasi yang diperlukan, waktu 4 hari tidaklah cukup.

Sebagai perbandingan, timnas Kamerun tiba di Kanada 24 hari sebelum pertandingan pertama yang mereka mainkan. Kamerun juga minim laga persahabatan seperti Spanyol, namun mereka mampu mengejutkan publik dengan menaklukkan Swiss untuk lolos ke 16 besar Piala Dunia Perempuan 2015.

“Dosa besar” RFEF lainnya adalah mempertahankan Ignacio Quereda selama bertahun-tahun. Lelaki  berusia 64 tahun ini telah menduduki jabatan pelatih timnas perempuan sejak tahun 1988. Sayangnya, dalam rentang waktu yang sangat lama ini, Quereda hanya 3 kali meloloskan timnas perempuan ke putaran final, yaitu : Piala Eropa 1997, Piala Eropa 2013, dan Piala Dunia 2015. Pencetak gol terbanyak di timnas Spanyol sepanjang masa, Laura Del Rio, pernah mengatakan bahwa ia tidak akan kembali ke timnas selama Quereda masih menjabat sebagai pelatih timnas perempuan Spanyol.

“Dosa Dosa” Ignacio Quereda

Dalam kasus kegagalan di Piala Dunia 2015, bukan hanya RFEF saja yang perlu bertanggung jawab. Ignacio Quereda, sebagai orang yang dipercaya oleh RFEF selama bertahun tahun sebagai pelatih, juga harus memikul tanggung jawab.

Pada pertandingan pertama menghadapi Kosta Rika, starting eleven yang diturunkan oleh Quereda patut dipertanyakan. Ruth Garcia yang biasanya menjadi bek tengah di timnas Spanyol, justru harus duduk di bangku cadangan. Hal ini memamg mengejutkan tetapi hal yang lebih mengejutkan lagi adalah susunan pemain di lini depan (Vero Boquete, Jenni Hermoso, Sonia Bermudez dan Natalia Pablos) dan lini tengah berkarakter ofensif (Vicky losada dan Alexia Putellas).

Dengan susunan pemain yang sangat ofensif ini, nama Virginia Torrecilla, yang biasa bermain sebagai gelandang bertahan, pun terlupakan. Masuknya Virginia Torrecilla sebagai gelandang bertahan dan seorang penyerang efektif, Marta Corredera, pada pertandingan menghadapi Brasil dan Korea membawa angin segar. Walaupun demikian, perubahan ini “membingungkan” para pemain lainnya dan tidak membuahkan hasil.  Bahkan Natalia Pablos tidak bisa memaksimalkan peluang yang ada.

Selain itu, Spanyol terlihat bermain lebih individual, bukan kolektif. Talenta individu yang dimiliki para pemain seperti Vero Boquete, Vicky Losada, Marta Corredera dan Virginia Torrecilla tidaklah cukup untuk menutup kelemahan tim ini secara kolektif. Pada sesi latihan, strategi seperti bola bola mati dipraktikkan tetapi ada perasaan bahwa tim ini tidak memiliki rencana dan berusaha memecahkan masalah dengan cara berimprovisasi.

Kebugaran juga menjadi masalah di tim ini. Setelah kekalahan atas Korea Selatan, Quereda berkata : “Pada babak pertama, kami mengendalikan permainan dan pada babak kedua, kondisi fisik menyebabkan kami kehilangan keunggulan.”

Sesungguhnya pada pertandingan menghadapi Brasil dan Kosta Rika, masalah ini pun terasa. Pada babak pertama, Spanyol tampil bersemangat, mati-matian, dan berkeinginan kuat mencetak gol. Sebaliknya, pada babak kedua, kelelahan fisik menghancurkan mereka dan mereka pun kehilangan energi.

Kesalahan Quereda tidak berhenti di situ saja. Jauh sebelum berpartisipasi di Piala Dunia, kesebelasan-kesebelasan Spanyol mengeluhkan ketidakhadiran Quereda pada pertandingan yang mereka mainkan. Barcelona (9 pemain), Atletico Madrid (4 pemain), dan Athletic Bilbao (3 pemain) adalah klub klub yang paling banyak menyumbang pemain. Apabila Quereda datang langsung untuk menyaksikan pertandingan liga, maka dia akan mendapati pemain lainnya yang lebih pantas dipanggil ke timnas Spanyol di luar dari tiga kesebelasan itu.  Nyatanya, selama ini Quereda nyaris tidak pernah menyaksikan pertandingan Liga Spanyol.

Reaksi Atas Kegagalan Timnas Perempuan

Pada 19 Juni lalu, timnas perempuan Spanyol mengeluarkan sebuah pernyataan tertulis yang menyiratkan perlunya perubahan di bangku kepelatihan. Dalam surat itu, Vero Boquete dan kawan kawan melakukan otokritik terhadap perjalanan timnas Spanyol di Piala Dunia. Dalam surat yang berjudul : “El Sentir de La Seleccion Espanola de Futbol” (Hal Yang Dirasakan Timnas Sepakbola Spanyol), mereka menekankan kurangnya persiapan, kurangnya analisa terhadap lawan, serta minimnya pertandingan persahabatan yang dilakukan untuk mempersiapkan turnamen ini.

Terhadap kritikan yang dilontarkan dalam surat tersebut, Quereda mengatakan bahwa dia tidak akan mengundurkan diri dari jabatan yang telah diembannya selama 27 tahun : “Saya tidak akanmengundurkan diri. Jika saya harus kembali melakukan perencanaan, saya akan melakukan hal yang sama. Satu satunya hal yang tidak kami lakukan adalah tidak memainkan pertandingan persahabatan melawan Rumania dan Bulgaria, karena 2 tim itu membatalkannya. Anda tidak dapat menyalahkan kegagalan (di Piala Dunia) karena tidak memainkan 2 pertandingan persahabatan”, katanya.

“Saya tidak perlu mengatakan apapun, mereka-lah (para pemain timnas Spanyol) yang harus berkomentar. Bukan saya mengangkat masalah itu. Saya terkejut dan cukup kecewa dengan pernyataan tertulis itu karena saya pikir hal itu tidak tepat,” tambahnya.

Ketika ditanya apakah RFEF turut bertanggung jawab, Quereda tidak setuju dengan hal itu. “Federasi tidak ada hubungannya dengan masalah ini. Ini adalah tanggung jawab saya secara keseluruhan dan saya bertanggung jawab atas semua konsekuensi karena segala hal yang saya minta dan semua perencanaan yang telah saya lakukan telah dikabulkan (oleh Federasi). Jika ada pihak yang bersalah, maka itu adalah saya, bukan Federasi maupun Angel Maria Villar,” katanya.

Terjemahan pernyataan tertulis

           Pernyataan Sikap Para Pemain Timnas Spanyol. Diterjemahkan Dari Teks Asli Berbahasa Spanyol

Timnas Perempuan Spanyol = “Anak Tiri” RFEF

Pada akhirnya, pernyataan tertulis itu menjadi puncak kekecewaan para pemain timnas perempuan Spanyol yang terkesan “merasa tidak diperhatikan” oleh RFEF. Ibarat sebuah keluarga, RFEF adalah seorang ayah dan timnas perempuan adalah seorang anak kandung . Namun, sang anak kandung ini seolah diperlakukan seperti “anak tiri”, tidak seperti saudara kandung lainnya lainnya (baca : timnas laki-laki). Salah satu sikap RFEF yang menganaktirikan timnas perempuan ini adalah tetap mempertahankan Quereda (yang terbukti tidak berprestasi) selama bertahun-tahun.

Perlu diketahui bahwa pengangkatan Quereda sebagai pelatih timnas perempuan bertepatan dengan terpilihnya Angel Maria Villar sebagai presiden RFEF. Dua puluh tujuh tahun dan tanpa gelar adalah indikasi kegagalan. Sudah seharusnya RFEF melakukan perombakan besar besaran di bangku kepelatihan timnas perempuan. Dan sudah sepantasnya juga Villar berpikir untuk meletakkan jabatan yang cukup lama dipegang olehnya.

Seperti kata Lord Acton : “kekuasaan cenderung korup, dan kekuasaan yang abolut sudah pasti korup.”

Jabatan seseorang, di bidang apapun, perlu dibatasi. Perubahan adalah sebuah keniscayaan yang tidak akan pernah lepas dari kehidupan, termasuk sepakbola.

——

Tulisan ini telah dimuat di : http://panditfootball.com/ . Link lengkap tulisan ini dapat dilihat di : http://panditfootball.com/pandit-sharing/perempuan-perempuan-spanyol-akhirnya-melawan-federasi/