Category: travelling


Kopi Darat di Semarang

Desember lalu, saya memutuskan pergi ke Semarang sekaligus “kopi darat” dengan Nana Podungge, atau cukup dipanggil mbak Nana. Saya mengenalnya sejak kami masih memiliki akun friendster, tepatnya pada tahun 2004. Ketertarikan terhadap isu isu kesetaraan jender membuat kami “nyambung” saat berdiskusi. Sulit untuk mencari teman yang paham dengan isu ini, bahkan teman perempuan sekalipun.

Selama di Semarang, saya menginap di kamar kost Ranz, temannya mbak Nana. Mereka berdua-lah yang menjadi guide saya selama disana. Jarak antara satu tempat wisata ke tempat wisata lainnya di Semarang tidak terlalu jauh, oleh karena itulah kami memutuskan untuk bersepeda.

 

IMG_1042

Mbak Nana dan Saya

 

Kami mengunjungi beberapa tempat di kota Semarang, diantaranya sebagai berikut :

  1. Klenteng Sam Poo Kong

IMG_0988

IMG_0994

 

 

2. Klenteng Tay Kak Sie

IMG_1047

IMG_1051

 

3. Lawang Sewu

IMG_1009

12370827_10205476105845640_4111208062589703716_o

Mbak Nana, Ranz, dan Saya

 

4. Kota Tua Semarang

IMG_1034

Gereja Blenduk

IMG_1041

Pabrik Rokok Praoe Lajar

IMG_1045

 

 

5. Wihara Avalokiteswara

IMG_1096

Sleeping Budha

 

Selain mengunjungi tempat tempat di atas, kami juga tidak lupa untuk berwisata kuliner.Harga makanan pinggir jalan di Semarang lebih murah ketimbang di Jabodetabek. Ini beberapa makanan yang kami coba.

tahu gimbal

Tahu Gimbal

mie kopyok

Mie Kopyok

 

Sebenarnya, saya berkeinginan untuk berkunjung ke Ambarawa untuk melihat Museum Kereta Api. Akan tetapi berhubung jatah cuti saya terbatas dan jarak dari Semarang terlalu jauh (kurang lebih 35 km), saya harus membatalkan niat itu. Ada yang pernah berkunjung ke Ambarawa ?

Advertisements

Laporan Perjalanan ke Dieng

Lahir dan besar di kota yang terletak di dataran rendah membuat saya selalu antusias untuk melakukan perjalanan ke tempat bersuhu rendah. Dieng adalah sebuah dataran tinggi di Provinsi Jawa Tengah yang terletak di ketinggian 2000 meter di atas permukaan laut. Tempat ini berjarak sekitar 140km dari Purwokerto atau 40km dari Wonosobo dan dapat dijangkau dengan bus.

Bagi saya, perjalanan menuju Dieng sudah menjadi petualangan tersendiri. Saya pergi dengan ayah saya dengan menumpang bus dari Terminal Purwokerto menuju Wonosobo. Kami memerlukan waktu 2 jam untuk sampai di Wonosobo. Sesampainya di Wonosobo, kami melanjutkan perjalanan dengan bus menuju Dieng.

Perjalanan ke Dieng ini mengingatkan saya kepada perjalanan menuju Puncak Pass karena jalan yang berkelok-kelok. Belum lagi ditambah dengan hujan deras yang menyebabkan longsor di beberapa titik. Sangat disarankan untuk pergi ke Dieng ketika musim kemarau untuk menghindari longsor yang terjadi di beberapa titik di Jalan Raya Dieng. Bagi anda yang hobby memotret, akan lebih baik jika pergi ke Dieng di musim kemarau agar cuaca cerah membuat hasil foto anda lebih bagus.

Salah satu penyebab longsor di sepanjang jalan menuju dataran tinggi Dieng ini adalah penanaman kentang secara masif selama puluhan tahun. Menurut ayah, seharusnya para penduduk menanam tanaman dengan akar keras, bukannya malah menanam kentang. Dan saya tidak terkejut dengan pemberitaan bahwa kerusakan di dataran tinggi Dieng sudah tergolong parah. Pemberitaan mengenai hal itu dapat dilihat disini : http://regional.kompas.com/read/2013/06/07/19581798/Buah.Simakalama.Dieng.Bernama.Kentang .

Kembali ke perjalanan saya menuju Dieng. Kami tiba di Dieng sekitar pukul 2 siang (Kamis, 18 Desember 2014) dalam kondisi hujan lebat. Rencananya, kami ingin segera menuju tempat wisata, namun hujan yang turun hingga sore hari menghalangi kami untuk melakukan aktivitas di luar.

Keesokan harinya, kami memulai perjalanan keliling Dieng. Tujuan pertama kami adalah Telaga Warna. Sebelum kami memasuki area Telaga Warna, ada seorang pemandu resmi, Bapak Tholib, yang menawarkan jasanya kepada kami untuk menjelaskan barbagai macam hal yang ada di sekitar Telaga Warna, tidak hanya terfokus ke telaga-nya saja. Akhirnya, kami memutuskan untuk menggunakan jasanya.

Telaga Warna

Telaga Warna

Ayah saya (kiri) dan Pak Thalib (kanan)

Ayah saya (kiri) dan Pak Tholib (kanan)

Di sekitar Telaga Warna, ada beberapa gua, diantaranya adalah gua semar, gua pengantin, dan gua sumur. Menurut penjelasan Bapak Tholib, almarhum Presiden Suharto pernah bersemedi di gua Semar. Mengenai gua pengantin, dipercaya bahwa orang yang bertapa di gua ini akan mendapatkan jodohnya. Well, antara percaya dan tidak percaya karena saya sendiri belum pernah mencobanya 😀

Gua Semar

                          Gua Semar

IMG_9720

                     Gua Pengantin

Gua Sumur

                    Gua Sumur

Setelah selesai berjalan jalan di Telaga Warna, perjalanan di lanjutkan ke Kawah Sikidang. Seingat saya, Pak Tholib sempat menceritakan sedikit mengenai Legenda Kawah Sikidang ini namun saya lupa. Lain kali seharusnya saya membawa alat perekam seolah sedang bertindak sebagai seorang reporter hehehehe. Namun, intinya, kawah ini masih aktif mengeluarkan uap panas yang mengandung belerang.

Kawah Sikidang

                     Kawah Sikidang

Dua obyek wisata tidak membuat kami puas. Hujan yang mengguyur sepanjang siang hari itu memang sedikit menghambat langkah kami untuk melanjutkan perjalanan. Kami harus menunggu kurang lebih satu jam untuk kemudian melihat candi-candi yang ada di Kompleks Candi Arjuna. Beberapa candi itu diantaranya adalah:

Candi Puntadewa

                    Candi Puntadewa

Candi Srikandi

                   Candi Srikandi

Beberapa tips dan informasi yang mungkin berguna bagi anda yang ingin melakukan perjalanan ke Dieng :
1. Bagi anda yang belum memahami “medan” Dieng, saya sarankan agar menggunakan jasa pemandu. Banyak pemandu resmi yang disediakan oleh pihak pengelola objek wisata ini.
2. Berdasarkan pengalaman saya, untuk telaga warna, biaya tip pemandu adalah Rp. 30.000.  Karena saya mengunjungi banyak obyek, seharusnya saya dikenakan tip Rp. 150.000,  namun Bapak Thalib bersedia memberikan diskon sehingga saya hanya membayar Rp. 100.000. Bagi anda yang ingin pergi ke Dieng dan menggunakan jasa pemandu, anda dapat menghubungi bapak Thalib di 082325651640
3. Selalu membawa payung karena cuaca tidak dapat diduga
4. Suhu rata-rata pada siang hari di Dieng berkisar antara 15-20 derajat celsius. Sementara suhu di malam hari dapat turun drastis menjadi 5 derajat.
5. Carilah penginapan yang menyediakan fasilitas air hangat. Hostel tempat saya menginap memang menyediakan air hangat namun saat itu fasilitas tersebut tidak dapat digunakan karena rusak. Ada baiknya anda bertanya terlebih dahulu apakah fasilitas tersebut berfungsi dengan baik
6. Cobalah melakukan perjalanan keliling Dieng Zona 1 dengan berjalan kaki. Udara yang sangat sejuk membuat anda tidak akan merasa lelah. Berdasarkan aplikasi endomondo yang terdapat di ponsel saya, hari itu, kami menempuh perjalanan sejauh 10km. Pemandu yang menemani kami pun terkagum kagum , terlebih kepada ayah saya yang dengan usia 65 tahun masih mampu berjalan sejauh itu.
7. Ongkos penginapan di Dieng bervariasi, mulai dari harga 90 ribu hingga 200 ribu. Saya menginap di hostel Dieng Plateau yang mengenakan tarif 200 ribu per malam.
8. Tiket masuk obyek wisata :

– Tiket masuk kawasan dataran tinggi Dieng : Rp. 8000
– Telaga warna dan Telaga Pengilon : Rp . 5000
– Kawah Sikidang dan Candi Arjuna : Rp. 10000

Berlibur di Bunaken

Salah satu cita cita saya dalam hidup ini adalah merasakan pengalaman snorkeling, entah dimanapun itu. Tanpa direncanakan jauh-jauh hari dan dengan persiapan kurang dari satu bulan, saya melakukan snorkeling di Bunaken. Mengapa Bunaken? Simple jawabannya : karena saya memiliki teman yang tinggal di Manado. Kebetulan juga saya belum pernah mengunjungi Manado. Jadi, selain snorkeling di Bunaken, saya juga mengunjungi obyek wisata lainnya di Manado. Namun, disini saya hanya akan membahas mengenai pengalaman saya terkait dengan snorkeling.

Saya menghabiskan waktu di Manado dan sekitarnya dari tanggal 16 hingga 21 Oktober 2014. Di Bunaken, saya hanya menghabiskan waktu 2 hari 1 malam, tepatnya dari tanggal 18-19 Oktober. Untuk menuju ke Bunaken, anda dapat naik kapal umum yang berangkat setiap hari pada pukul 15.00. Perlu diingat bahwa pada hari Minggu, kapal umum tidak beroperasi (baik kapal dari dan ke Bunaken). Saya sendiri dan teman saya, Novi, menumpang sebuah kapal yang digunakan untuk mengangkut rombongan dokter dokter yang baru saja melakukan baksos di suatu tempat (saya lupa dimana).

C360_2014-10-18-08-51-19-010
Kami tiba di Bunaken sekitar pukul 9 pagi . Untuk menuju cottage tempat kami menginap, kami dijemput oleh 2 pegawai cottage dengan motor. Jarak dari pinggir pantai ke cottage kurang lebih 2,5km. Nama cottage tempat kami menginap adalah Lorenso Cottage. Ternyata, Lorenso Cottage ini masuk dalam daftar cottage yang direkomendasikan oleh website TripAdvisor.com dan buku petunjuk mengenai wisata Indonesia yang diterbitkan dalam bahasa Perancis.

Beberapa cottage di "Lorenso Cottage"

     Beberapa cottage di “Lorenso Cottage”

Lucunya, kami sempat berpikir bahwa pemilik cottage ini bukan warga negara Indonesia, hanya karena memiliki nama “Lorenso”. Sesampainya disana, kami disambut oleh si pemilik cottage, Lorenso, yang adalah orang asli Bunaken. “Om Loren” – begitulah dia sering disapa- telah menjalankan bisnis penginapannya ini sejak tahun 1999!!! Awal mulanya, om Loren pernah bekerja menjadi guide . Saking asiknya bekerja, sekolahnya di STM pun tidak selesai. Namun, dari uang yang dikumpulkannya sejak menjadi pemandu wisata, sedikit demi sedikit om Loren membeli tanah dan membanguun cottage-nya. Cerita yang sangat menarik!

Setelah berbicara sebentar dengan Om Loren, kami pun menaruh barang-barang di kamar untuk kemudian langsung melakukan snorkeling. Hal yang baru saya ketahui adalah bahwa apabila menginap di cottage, harga kamar dihitung per orang per malam. Kami mendapatkan kamar seharga 200 ribu per malam. Sebenarnya ada harga sewa kamar yang lebih murah, namun kamar tersebut sudah penuh. Harga ini sudah termasuk makan 3 kali sehari. Cottage ini tidak mewah dan agak sedikit kotor. Tetapi bagi anda yang sudah terbiasa “backpacking”, maka tidak akan jadi masalah. Di Cottage ini pun listrik hanya menyala saat malam hari hingga pagi hari (18.00-06.00).
Mengetahui niat kami yang ingin melakukan snorkeling tanpa pengalaman sebelumnya, om Loren mendampingi kami berdua, dibantu oleh seorang temannya yang bernama “Opa Bert”. Novi, yang tidak bisa renang, didampingi oleh Om Loren dan saya didampingi oleh Opa Bert. Cottage ini memang menyewakan alat selam namun hanya sedikit. Saran saya, jika anda membawa banyak rombongan, lebih baik anda menyewa alat selam yang ada di dekat pantai Liang. Sekedar informasi saja, Lorenso Cottage ini berada di dekat Pantai Pangalisang.

Pantai Pangalisang

                   Pantai Pangalisang

Satu kesalahan saya pada saat snorkeling ada memakai kacamata renang. Kenapa? Dengan mengenakan kacamata renang, maka hidung saya tidak tertutup dan akhirnya air banyak yang masuk melalui hidung. Berkali-kali saya harus menutup hidung saya pada saat renang. Saya memutuskan untuk tidak menggunakan penutup hidung karena apabila saya menggunakan penutup hidung, maka saya tidak dapat mengenakan kacamata renang khusus untuk mata minus (penutup hidung dan kacamata menyelam menjadi satu). Belakangan saya mengetahui bahwa kacamata khusus menyelam bagi orang bermata minus pun tersedia di Pantai Liang untuk disewakan.

Penutup hidung dan kacamata menjadi satu. Sumber gambar : http://travelblog.ticktab.com/wp-content/uploads/2012/07/us_divers_mask_and_snorkel.jpg

Penutup hidung dan kacamata menjadi satu. Sumber gambar : http://travelblog.ticktab.com/wp-content/uploads/2012/07/us_divers_mask_and_snorkel.jpg

Tidak mudah untuk melakukan snorkeling. Saya yang terbiasa renang di kolam renang dengan gaya dada pun terus membawa kebiasaan ini ke laut. Ternyata, cara renang di laut ini berbeda dengan di kolam renang. Gerak kaki anda ketika renang di laut haruslah seperti gerak kaki ketika mengayuh sepeda. Anda harus melakukan itu agar dapat bergerak ke depan. Selain itu, yang paling sulit adalah bernapas melalui mulut. Bagi anda yang tidak bisa renang, jangan khawatir karena anda dapat menggunakan pelampung.

Novi yang mengenakan pelampung

     Novi yang mengenakan pelampung

Saya yang berkali kali menutup hidung agar air tidak masuk ke mulut

Ketika anda berada di dalam air, hati-hatilah pada saat renang. Jangan sampai kaki anda membentur karang dan tergores seperti yang saya alami ini. Well, saya anggap luka di kaki karena terkena karang itu sebagai “oleh-oleh”.

Terkena karang

                        Terkena karang

Setelah puas snorkeling sepanjang pagi itu, kami beristirahat sejenak sambil menunggu makan siang. Makan siang di cottage ini tidak lain dan tidak bukan adalah apalagi kalau bukan IKAN!! Kami sempat melihat karyawan cottage ini membawa ikan yang sangat besar. Mereka berkata bahwa berat ikan ini adalah 85kg!!! Sayangnya saya lupa nama ikan ini.

Ikan super besar

                    Ikan super besar

Sore hari, sekitar pukul 16.00, kami kembali melakukan snorkeling. Kali ini, kami didampingi oleh 2 karyawan cottage yang bersedia menemani, tepatnya memotret aktivitas kami di dalam air. Apabila anda tidak memiliki kamera bawah air, anda dapat menyewa kamera ini di tempat penyewaan di sekitar Pantai Liang. Harga sewa kamera plus CD yang berisi foto-fotonya adalah Rp. 350.000. Pemandangan di bawah laut sungguh indah. Tidak heran apabila turis asal Perancis yang saya temui disana pun berkata bahwa di Eropa tidak ada pemandangan bawah laut seindah di lautan Indonesia. Inilah beberapa makhluk laut yang tertangkap oleh kamera  :

Penyu

                            Penyu

Clown Fish

                         Clown Fish

Lion fish

                             Lion fish

Bintang laut :)

                      Bintang laut 🙂

Kesan saya selama menginap di Lorenso Cottage adalah bawha karyawan di cottage ini sangat sopan, informatif, dan ramah. Pemilik cottage ini, Lorenso, pun mengakui kepada saya bahwa konsep cottage-nya adalah bahwa pemilik cottage ikut memperhatikan kebutuhan tamu-tamunya. Menurut Lorenso, mayoritas pemilik cottage lainnya sehari-harinya tidak berada di cottage dan tidak melayani tamu-tamunya, namun menyerahkan pelayanan kepada orang lain. Hal lain yang saya sukai dari cottage ini adalah bahwa suasananya sangatlah kekeluargaan. Tamu-tamu dapat berinteraksi satu sama lain ketika jam makan. Mereka duduk bersama di meja makan yang sama. Sebuah konsep baru dari sebuah penginapan, yaitu tidak hanya strategis karena terletak di dekat obyek wisata, melainkan juga “memanusiakan” tamu-tamunya.