Category: journalism


Dear Mehmet,

How are you? Well I’m sure that you are not ok. Living in detention has never been ok because you have no freedom. As an investigative journalist, writing is the greatest happiness for you. I’m sure that your colleague in Taraf newspaper and the readers are missing you so much.

Source : www.724haberal.com

                  Source : http://www.724haberal.com

Dear Mehmet, I don’t know about you. I’m just an ordinary Indonesian girl who likes keeping up with Turkish political news. I knew about your detention by reading turkish online newspaper. I’m so sad with what has happened to you. It reminds me of what happened to an Indonesian journalist several years ago. Do you want to know about it,  Mehmet?

Fuad Muhammad “Udin” Syafruddin was an investigative journalist, just like you. Tragically, he was killed at his house on 16 August 1996. Until now, his mysterious murder has not been resolved.  To know more about the case, Mehmet, you need to understand political situation in Indonesia at that time. In 1996, we were still living under the authoritarian regime of General Soeharto. At that time, General Soeharto oppressed critical journalists and political opponents, just like what happens in your country right now.

Picture of Udin. Source : skalanews.com

                    Picture of Udin. Source : skalanews.com

Udin worked at Bernas Daily Newspaper in Yogyakarta. Before he died, he wrote a series of articles on corruption in Bantul regency.  His murder became a national issue because it was presumed that local government officials was involved. Instead, police didn’t arrest the real murderer but sacrificed a man named Dwi Sumaji a.k.a Iwik. That stupid police charged Iwik with : “murder because of jealousy”. Later, he was acquitted by judges due to lack of evidence.

Dear Mehmet, several weeks ago I read that you have been transferred to unhygienic cells with inhumane condition along with Hidayet Karaca (president of Samanyolu Broadcasting Group) and some police officers. Even they didn’t provide you  with fork and spoon to eat! That’s why on the first paragraph in this letter I said that you’re not ok. Besides, I’ve read that you were detained because of releasing classified documents by publishing it on Taraf newspaper. Well, whatever was it, you just did your job, for the sake of public interest. Nevertheless, I understand that some people don’t like what you did . “It is dangerous to be right when the government is wrong”, said Voltaire.

Sadly, in your country, journalist imprisonment is becoming a trend. On 1 December 2014, Committee to Protect Journalist (CPJ) released a report on imprisonment of journalists worldwide. It was said that there were 7 Turkish journalists who were being jailed. And I’m sure that the number will be increasing because more and more journalists have been arrested and detained so far in 2015.

In my country right now, none of journalist are taken to court and imprisoned but sometimes they are always become target of violence by police. Freedom, justice, and democracy are quite expensive here in my beloved country, dear. Uhmmm…what else should I write?? Ah, I remember that you were detained on 2 March 2015. It means that you were detained 5 days before your birthday!!!! Celebrating (or not celebrating it ?) your birthday in detention was tragic. I can’t imagine the pain that you bear! 

Dear Mehmet, I hope you keep going strong although it’s very hard. I hope political situation in your country will be better as soon as possible. Let’s hope and pray that the best is yet to come after the general election on 7 June. Deposuit Potentes de Sede et Extalavat Humiles (He hath put down the mighty from their seats, and exalted those who were humble). Keep fighting, Mehmet, hiçbir zaman yalnız yürümeyeceksin (you’ll never walk alone). As you said when you were handcuffed by the police : “I’m going to bury them [those pressing charges against me] in the trash bin of history. These handcuffs are my pride. Journalism is my pride”. Never lose your pride, dear!

Baransu was handcuffed. Source: zaman.com.tr

                  Baransu was handcuffed. Source: zaman.com.tr

 

Advertisements

Seperti kita semua ketahui , tanggal 1 Mei lalu diperingati sebagai Hari Buruh. Perlu diingat bahwa yang dimaksud dengan “buruh” disini bukan hanya mereka yang bekerja di pabrik , melainkan semua pekerja. Direktur dan manajer pun dikategorikan sebagai buruh, karena mereka masih menerima gaji. Sementara itu, penjual siomay langganan anda di pinggir jalan itu tidak dapat dikategorikan sebagai buruh….kecuali apabila dia bekerja untuk “boss” somay. 😀

Kali ini saya ingin membahas sedikit mengenai nasib pekerja media di Indonesia. Pada tanggal 1 Mei lalu, saya sengaja datang datang ke sekitar Bundaran Hotel Indonesia untuk memotret aksi besar besaran dalam rangka perayaan Hari Buruh. Seperti yang pernah saya katakan sebelumnya di beberapa tulisan saya, memotret adalah hobby saya, terlebih memotret aksi demonstrasi, meskipun hal ini tidak ada kaitannya dengan pekerjaan saya di media olahraga. 😀

Satu hal yang membuat saya tertarik adalah adanya pekerja media yang tergabung “Forum Pekerja Media”, yang berpartisipasi di aksi itu. Sebagai seorang pekerja media, tentunya saya sangat tertarik dengan yang mereka lakukan, bahkan saya diajak bergabung. Sayangnya, pada hari itu saya bekerja, jadi saya tidak dapat bergabung dengan mereka sampai akhir. Perlu dicatat disini bahwa yang dimaksud dengan pekerja media bukan hanya jurnalis, melainkan juga mereka semua yang bekerja di media, termasuk mereka yang bekerja di percetakan yang terkait dengan media.

Forum Pekerja Media mengatakan bahwa hingga saat ini mayoritas media tidak memiliki serikat pekerja. Ada kecenderungan bahwa pada saat ini, ancaman kebebasan pers justru datang dari dalam industri media itu sendiri, bukan dari negara. Menurut Aliansi Jurnalis Independen (AJI), posisi tawar pekerja media yang buruk karena tidak berserikat itulah yang membuat pemilik media kurang memperhatikan kesejahteraan mereka.. Selain itu, praktek “konvergensi media” membuat beban kerja pekerja media bertambah akan tetapi tidak diiringi dengan peningkatan kesejahteraan.

IMG_0224

Belum lagi, yang mengejutkan, ada jurnalis yang berstatus sebagai pekerja outsourcing. Hal ini tidak dapat dibenarkan karena jurnalis adalah bagian dari “pekerjaan inti” di sebuah perusahaan media. Berdasarkan data Aliansi Jurnalis Independen, sebagian jurnalis berstatus tidak tetap. Sebagian dari mereka juga menerima gaji yang rendah , jauh dari upah minimum regional yang berlaku di masing masing provinsi.

Pada tahun lalu, AJI mengatakan bahwa upah layak seorang jurnalis di Jakarta adalah Rp. 6.5 juta. Hal itu didasarkan pada survei yang dilakukan AJI Jakarta pada Oktober-November 2014 terhadap kebutuhan hidup layak jurnalis di Jakarta dengan pengalaman kerja setahun atau setelah diangkat menjadi pekerja tetap. AJI mengatakan bahwa kerja jurnalis berbeda dengan pekerja di sektor lain karena pekerjaan jurnalis membutuhkan keahlian khusus. Jurnalis bertanggung jawab untuk menyuarakan kepentingan publik. Rendahnya kesejahteraan ini justru akan membuat mereka “lemah” dalam melawan godaan suap dalam bentuk apapun dari narasumber.

Tuntutan lainnya yang disuarkan oleh Forum Pekerja Media adalah agar para pemilik media memperhatikan jaminan sosial para pekerjanya. Adanya potensi besaran iuran BPJS Ketenagakerjaan akan membuat pemilik media mengurangi fasilitas yang diberikan selama ini. Khusus untuk pekerja media perempuan, masih terjadi pembedaan pemberian tunjangan pemeliharaan kesehatan untuk keluarga pekerja media perempuan dibandingkan pekerja media laki laki. Masih banyak perusahaan yang tidak memberikan cuti haid atau ruang laktasi bagi pekerja perempuan yang masih menyusui anaknya.

IMG_0219

Bagaimanapun juga, pers adalah salah satu pilar demokrasi. Kebebasan pers dalam berserikat adalah bagian dari demokrasi. Pas de liberté sans liberté de la presse (tidak ada kebebasan tanpa kebebasan pers). Kesejahteraan pekerja media tentunya akan berdampak besar bagi kebebasan pers.

IMG_0227

                                                           Saya di tengah tengah aksi May Day 😀

WP_20150501_010[1]

(Foto-Foto adalah koleksi pribadi penulis. Diambil pada tanggal 1 Mei 2015)

Mungkin memang saya saja yang terlalu naif atau terlalu “awam” sehingga saya pernah menganggap bahwa media olahraga bebas dari intrik-intrik politik olahraga, tidak seperti media umum yang kadang memang berpihak terhadap golongan politik tertentu. Pada tahun 2011, saya mulai rajin membaca Marca, dilanjutkan dengan As dan Mundo Deportivo setahun belakangan ini. Setelah lebih sering membaca ketiga media Spanyol itu, saya menjadi sadar bahwa media olahraga pun berpihak, sama dengan media umum. Berikut gambaran sekilas dari tiga media tersebut:

1. Marca

Marca adalah media olahraga terbesar di Spanyol. Terbit dengan format tabloid harian, Marca menjadi media cetak dengan pembaca terbanyak di Spanyol, melebihi harian umum. Harian ini memfokuskan diri pada berita-berita mengenai sepakbola, walaupun ada juga cabang olahraga lainnya seperti basket, tenis, dan otomotif. Markas Marca terletak di Madrid, dan faktanya, mereka lebih banyak memuat berita mengenai Real Madrid, terlepas dari ada 3 klub divisi utama Liga Spanyol lainnya yang bermarkas di Madrid (Atletico Madrid, Getafe, dan Rayo Vallecano). Banyak yang menuduh Marca memihak Real Madrid. Oscar Campillo, direktur Marca, pernah meyakinkan bahwa medianya adalah media bagi semua penggemar sepakbola. Meskipun demikian, pernyataan Campillo bertentangan dengan fakta bahwa Real Madrid mendapatkan pemberitaan paling banyak.

Hal pertama yang membuat tersentak dan sadar bahwa “media olahraga pun berpihak” adalah ketika saya membaca ulasan pertandingan Liga Champions musim 2012-2013 antara Borussia Dortmund-Malaga. Singkatnya, pada pertandingan tersebut wasit dianggap membuat keputusan kontroversial dengan mengesahkan gol Dortmund yang dianggap berbau offside. Hal yang menjadi sorotan saya di sini adalah cara sang wartawan menggambarkan pertandingan tersebut. Salah satu kalimat “tidak netral” yang saya temukan dalam artikel tersebut antara lain adalah :

No hay palabras que consuelen al malaguismo. No hay nada que se pueda escribir ni decir sobre la injusticia vivida anoche en Dortmund en sólo 71 segundo”

(“Tidak ada kata-kata yang dapat menghibur para penggemar Malaga. Tidak ada yang dapat dituliskan ataupun dikatakan mengenai ketidakadilan semalam di Dortmund (yang terjadi) hanya dalam jangka waktu 71 detik)

“Ketidakadilan”?? Well, belum apa-apa sang penulis sudah menyebut bahwa wasit melakukan ketidakadilan. Wasit juga manusia, mereka juga dapat melakukan kesalahan. Bisa saja sang wasit melakukan kesalahan pada saat memimpin pertandingan dan tidak bermaksud memberikan keuntungan kepada Dortmund.

Marca juga beberapa kali membuat “kampanye negatif”, salah satunya adalah “kampanye pemecatan Pellegrini” sebagai pelatih Real Madrid. Beberapa diantaranya ditunjukkan seperti contoh kover depan Marca di bawah ini :

NEGATIVE CAMPAIGN PELE

Terjemahan : Estas despedido Manolo : You’re fired, Manolo | Fuera : (Pellegrini) Out! | Vete ya : (You) Go away!

Selain itu, jika anda sering memperhatikan pertandingan yang dimainkan Real Madrid di Santiago Bernabeu dan pertandingan yang dimainkan Atletico di Vicente Calderon, Marca dipastikan muncul di papan-papan iklan stadion. Untuk memunculkan iklan di papan stadion tentunya bukanlah hal yang mudah. Kedua belah pihak harus mengadakan perjanjian. Jadi, tidak mengherankan apabila Marca hampir tidak pernah mengkritik keras kebijakan Real Madrid atau Atletico. Jika Marca mengkritik keras kebijakan Real Madrid atau Atletico, mungkin saja kedua media itu tidak dibolehkan “ngiklan” di stadion atau wartawan mereka tidak dibolehkan menumpang di pesawat yang membawa kedua tim ketika mereka melakukan perjalanan dalam rangka pertandingan tandang.

Dalam kasus kepindahan Angel Di Maria, Marca selalu berpegang pada pernyataan Ancelotti yang berkata bahwa “Di Maria sendirilah yang mengingingkan pergi” (lihat http://www.marca.com/2014/08/21/en/football/real_madrid/1408634693.html) dan Marca tidak pernah mengutip pernyataan Di Maria yang berkata bahwa “saya tidak pernah ingin pergi dari Real Madrid” (lihat http://www.espn.co.uk/football/sport/story/337367.html). Dua pernyataan yang bertentangan, tapi Marca hanya memuat satu pernyataan. Hal ini jelas tidak “cover both side” dan menggiring pembaca untuk percaya pada pernyataan yang dikeluarkan oleh Ancelotti.

2. As

Harian As juga bermarkas di Madrid. Format harian ini hampir sama dengan Marca, yaitu tabloid harian. Sama seperti halnya Marca, harian ini memfokuskan diri untuk mengulas sepakbola, dan lagi-lagi Real Madrid-lah yang paling banyak mendapatkan pembahasan.

Satu hal yang lagi-lagi membuat saya tersentak adalah bahwa ada seorang jurnalis yang secara terbuka mengakui bahwa dirinya pendukung Real Madrid. Sebenarnya tidak masalah apabila secara terbuka sang jurnalis memberikan pengakuan mengenai “ideologi sepakbola”-nya, akan tetapi menjadi masalah apabila dia berpihak dalam menulis opini.

Sang jurnalis ini bernama Tomás Gómez-Díaz Roncero, atau lebih populer dengan nama Tomas Roncero. Dia adalah redaktur desk Real Madrid di harian As. Mengapa saya katakan bahwa dia berpihak dapat dilihat dari contoh opini yang dia tulis di website As.com. Opini tersebut berjudul : “Fichemos Varios Españoles” (Kami Merekrut Berbagai Pemain Spanyol). Inilah cuplikan kalimat yang dilontarkannya di artikel tersebut :

Sé que lo primero es renovar a Cristiano y fichar a Bale. Pero cerremos ya la vuelta de Carvajal y, si se tercia, traigamos a uno de esos españolitos

(Saya tahu bahwa pertama-tama adalah memperpanjang kontrak Ronaldo dan merekrut Bale. Akan tetapi kami kembali merekrut Carvajal, dan jika ada kesempatan, kami merekrut pemain muda Spanyol)

Apabila Roncero mengaku sebagai jurnalis, seharusnya dia tidak menulis opini dengan kata ganti kami. Sepertinya dia tidak sadar bahwa tidak semua pembaca As adalah pendukung Real Madrid. Kesannya, Roncero ini seperti juru bicaranya Real Madrid.

3. Mundo Deportivo

Tabloid harian Mundo Deportivo bermarkas di Barcelona. Walaupun bermarkas di Barcelona, tabloid ini tidak menggunakan bahasa Katalan sebagai bahasa penutur, melainkan bahasa Spanyol. Sama seperti Marca dan As, sebagian besar tabloid ini fokus kepada liputan sepakbola, khususnya FC Barcelona (FCB). Rival FCB, yaitu Espanyol, tidak banyak mendapatkan tempat di tabloid ini. Tabloid ini juga memasang iklan mengenai produk klub Barcelona seperti yang terlihat di bawah ini :

???????????????????????????????

Sebagai pengiklan dan pemasang iklan, jelas keduanya saling menguntungkan. Mundo Deportivo mendapatkan pemasukan dari tarif iklan dan FCB memiliki potensi untuk mendulang keuntungan dari penjualan produknya. Jadi, tidak mengherankan apabila Mundo Deportivo kadang “diminta” untuk menulis berita yang berpihak kepada rezim pimpinan klub yang sedang berkuasa.

Kasus paling menonjol dari keberpihakan Mundo Deportivo, selain kepada Barcelona, adalah keberpihakan kepada Sandro Rosell dalam pemilihan presiden klub Barcelona pada 2010 lalu. Beberapa kali tabloid ini menjelek-jelekkan rezim Laporta, seperti terlihat dalam gambar artikel di Mundo Deportivo ini:

laporta 2

Di artikel tersebut disebutkan bahwa rombongan FCB menginap di hotel ketika tur Amerika Serikat dan biaya ditanggung oleh penyelenggara. Walaupun demikian, biaya ekstra tidak ditanggung oleh penyelenggara dan seharusnya dibayar sendiri oleh Barcelona. Yang menjadi masalah, disebutkan bahwa pihak klub FCB masih memiliki hutang sebesar USD127.797. Laporta sendiri membantah hal itu. Laporta juga pernah berkata bahwa : “Mundo Deportivo berkampanye mendukung Sandro Rosell”.

Media Olahraga Spanyol dan Tim Nasional Sepakbola Spanyol

Marca dan As sangat mendukung tim nasional Spanyol. Hal itu sudah tidak diragukan lagi. Berbeda halnya dengan Mundo Deportivo yang agak “sinis”. Situasi politik Spanyol mempengaruhi hal ini. Media Katalunya, termasuk media olahraga, tidak menganggap Katalunya sebagai bagian dari Spanyol. Dalam penulisan berita mengenai tim nasional, media Katalunya lebih fokus kepada kiprah para pemain Barcelona di tim nasional. Ya, sampai kapan pun olahraga tidak dapat lepas dari kondisi politik di suatu negara.

Tulisan ini juga dimuat di : http://laligaindonesia.wordpress.com/2014/11/16/media-olahraga-pun-berpihak/