Tanggal 30 Agustus diperingati sebagai Hari Internasional Bagi Para Korban Penghilangan Paksa. Secara singkat penghilangan paksa terjadi ketika seseorang diculik atau ditahan oleh institusi negara atau organisasi politik atau pihak ke-3 dengan persetujuan dan dukungan negara atau organisasi politik, diikuti oleh penolakan untuk mengakui nasib dan keberadaan orang tersebut.

Menjelang kejatuhan presiden Suharto (1997-1998), terjadi penculikan aktivis mahasiswa dan organisasi kemasyarakatan. Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) , masih ada 13 korban yang hingga saat ini tidak diketahui keberadaannya. Mereka adalah Dedy Umar Hamdun, Herman Hendrawan, Hendra Hambali, Ismail, M. Yusuf, Nova Al Katiri, Petrus Bima Anugrah, Sony, Suyat, Ucok Munandar Siahaan, Yani Afri, Yadin Muhidin, dan Wiji Thukul.

Seorang demonstran membawa foto 13 orang hilang yang saat ini tidak diketahui keberadaannya. Sumber foto : http://assets.kompas.com/data/photo/2011/03/06/1736073620X310.JPG

Setiap hari Kamis, sejak tanggal 18 Januari 2007, para anggota keluarga korban berkumpul di seberang Istana Negara untuk melakukan aksi diam melawan impunitas. Aksi ini dikenal dengan nama “Kamisan”. Tujuan utama dari aksi ini adalah meminta pemerintah mengusut tuntas kasus kasus pelanggaran HAM berat masa lalu, tidak hanya kasus penghilangan paksa melainkan juga kasus penembakan mahasiswa Universitas Trisakti dan Semanggi, diantaranya.

IMG_0567

                                                     Aksi Kamisan 27 Agustus 2015. Foto koleksi pribadi .

Penghilangan paksa tidak hanya terjadi di Indonesia. Setahun yang lalu, 43 pelajar di salah satu universitas di Ayotzinapa “menghilang” setelah diduga keras diculik oleh polisi setelah menghadiri unjuk rasa. Pihak berwenang mengatakan bahwa polisi menyerahkannya ke kelompok mafia narkoba bernama Guerreros Unidos yang membantai mereka. Namun, keluarga korban marah dengan ketidakseriusan penanganan kasus itu dan menolak percaya jika anak-anak mereka telah tewas.

Berbagai cara dilakukan untuk menyuarakan kepedihan keluarga korban, salah satunya adalah melalui sebuah puisi. Puisi yang ditulis oleh Marcela Ibarra Mateos, seorang dosen di Universidad Iberoamericana di Puebla berjudul : Mamá, Si Desaparezco, Adónde Voy? (Mom, If I Disappear, Where Do I Go ).

Pengunjuk rasa di Mexico City menuntut pengusutan kasus "penghilangan paksa" 43 pelajar universitas di Ayotzinapa. Sumber : http://www.noticiasnet.mx/portal/sites/default/files//fotos/2014/10/23/1.jpg

Pengunjuk rasa di Mexico City menuntut pengusutan kasus “penghilangan paksa” 43 pelajar universitas di Ayotzinapa. Sumber : http://www.noticiasnet.mx/portal/sites/default/files//fotos/2014/10/23/1.jpg

Selain itu, ada sebuah esai karangan Zen RS yang berjudul “Karena Nyeri itu Tiap Hari, Bukan 5 Tahun sekali” , yang sangat mewakili perasaan keluarga korban penghilangan paksa yang saat ini masih menunggu kejelasan nasib orang orang yang sangat disayanginya. Berikut kutipan kata kata dalam esai itu :

“Karena untuk sebuah cinta yang dalam, kehilangan akan selalu aktual. Karena untuk kerinduan yang menahun, kehilangan tak akan pernah basi. Hilangnya boleh tahun 1975 atau 1998, tapi nyerinya bisa datang kapan saja sampai entah. Bagi mereka yang kehilangan orang-orang tercinta karena kekerasan yang dilakukan negara dan aparatusnya, HAM bukanlah pasal-pasal dalam konstitusi atau kalimat-kalimat indah nan bersayap dalam sebait puisi. Bagi mereka, HAM adalah sesuatu yang konkrit dan sehari-hari. HAM adalah ketika bangun pagi dan mendapati kamar anak tercinta masih kosong tak berpenghuni. HAM adalah isak sedih dalam hati saat menatap foto suami yang sudah mati. HAM adalah mulut yang diam terkunci tiap kali ada anak bertanya: Bu, kapan bapak pulang?”

Isi puisi karangan Marcella Ibarra pun tak kalah mengharukan. Berikut adalah terjemahan puisi itu yang dikutip dari situs web http://sparksmex.blogspot.com/2014/11/mom-if-i-disappear-where-will-i-go.html

Mom, if I disappear, where will I go?
I don’t know, son.
I only know that if you disappear, I would look for you everywhere on earth and below the earth.
I would knock on every door of every house.
Asking every single person who I find along my way.
I would insist, every single day, at every moment, that I was obligated to look for you until I found you.
And I would want you not to be afraid, because I am looking for you.
And if they didn’t listen to me, my son,
My voice would grow stronger and I would shout your name in the streets.

I would break glass and tear down doors to search for you.
I would burn buildings so everyone would know how much I love you and how much I want you back.
I would paint walls with your name and I wouldn’t let anyone forget you.
I would look for others who are also searching for their children, so that together we could find you and them.
And my son, I would want you not to be afraid, because we would be looking for you.
If you didn’t disappear, my son–oh, I want that you not!–I would shout the names of those who have disappeared.
I would write their names on walls.
I would hug, even from a distance, all of the mothers and fathers, sisters and brothers who are searching for their disappeared.
I would walk arm in arm with them in the streets.
I would not allow their names to be forgotten.
I would want, my son, for none of them to be afraid because we would be looking for them.

Advertisements