By : Helga Worotitjan

Saya sering sekali membaca broadcast atau membaca postingan yang berisi: Wanita* harus dimuliakan, disayangi dst..dst.. Kesan yang ditimbulkan seolah pemuliaan perempuan. Benarkah demikian? Saya coba urai apa sebenarnya yang terjadi serta disampaikan oleh pesan-pesan tersebut. Sayangnya oleh kebanyakan masyarakat dianggap sesuatu yang lumrah bahkan indah sehingga minim pemikiran kritis.

Biasanya, isi kalimat-kalimat tersebut kelihatan menjunjung perempuan. Tapi sesungguhnya esensi dasarnya adalah menganggap perempuan selalu lemah dan oleh karenanya perlu dilindungi. Betul bahwa saat menyayangi kita perlu melindungi satu dengan yang lain, tapi bukan melulu menargetkan perempuan. Siapa pun perlu dilindungi saat dalam kondisi terancam jiwa raganya.

Nyatanya, melindungi perempuan yang dimaksud dalam kerangka berpikir dan bersikap yang dimaksud di atas, bukan karena keberadaan yang perlu dilindungi karena selalu ada kemungkinan bahaya dan situasi khusus, tapi lebih pada merendahkan eksistensinya. Eksistensi manusia perempuan. Eksistensinya dinihilkan sebagai manusia yang berdaya.
Yang menjadi masalah adalah, pemikiran seperti ini adalah konstruksi sosial sistem nilai patriarki. Sistem nilai yang menomor satukan laki-laki.

Sesugguhnya yang terjadi adalah perempuan didomestikisasi ke peran-peran ‘second line’ dengan menempelkan sifat-sifat (stereo-typing) lemah-lembut-butuh disayang-selalu hanya memakai perasaan dll. Padahal laki-laki juga. Sistem nilai patriarkilah yang menuntut laki-laki tidak boleh mengekspresikan sifat feminin yang sebenarnya banyak lebih baik dari pada ekspresi maskulin yang lebih banyak dalam bentuk kekerasan.

Sebagian besar laki-laki menjadi maskulin hanya karena tuntutan gender yang sangat purba. Peran dan fungsi sosialnya dipaksa untuk menjadi jagoan, yang nomor satu, yang mendahului, yang menyerang, yang lebih logis dll, sesuai konstruksi sosial.

Masalah besarnya adalah karena tuntutan berlebihan inilah maka laki-laki menjadi di bawah tekanan, lalu maskulinitasnya keluar dalam manifestasi kekerasan terhadap yang dianggapnya lebih bisa didominasi-dikontrol-rentan. Siapa korbannya? Perempuan-anak-minoritas seksual. Apa bentuknya? Perundungan (lebih dikenal dengan bullying), KDP (kekerasan dalam pacaran), KDRT, diskriminasi gender, dan kekerasan seksual (seksisme, pelecehan, pemerkosaan dll). Setara.

Bagaimana menghentikan dan atau mengurangi hal ini?
1. Mengedukasi masyarakat pentingnya menyadari bahwa manusia setara hak dasarnya, hak perempuan adalah hak asasi manusia. Jadi hidup, posisi hukum, pendapat, ekspresi, tubuh dllnya adalah otoritasnya bukan orang lain.

2. Perempuan dan laki-laki memang TIDAK SAMA tapi SETARA. Kesetaraan inilah yang oleh para feminis diperjuangkan. Ketimpangan gender (peran-fungsi sosial perempuan dan laki-laki bentukan budaya-politik-agama-pendidikan dll) membuat ada yang merasa superior (berkuasa, mengontrol & mendominasi) dan inferior (obyek, lebih lemah & penerima keputusan).
Dengan menyadari bahwa semua gender SETARA, akan timbul kesadaran untuk saling menghargai. Yang laki-laki tidak lagi memandang perempuan sebagai obyek, yang hetero tidak lagi melihat yang LGBTIQ/minoritas seksual lebih rendah, serta yang mayoritas tidak menindas dan mendiskriminasi yang minoritas.

3. Pendidikan HAM, seks dan kesehatan reproduksi dini. Tujuannya adalah memberi penyadaran sejak usia dini bahwa manusia setara dan memiliki otoritas atas tubuhnya sendiri. Moda pendidikan ini akan meningkatkan kesadaran dan penghargaan atas diri sendiri dan orang lain. Dengan meningkatnya kesadaran diri, akan berpengaruh kolektif dan menekan angka kekerasan berbasis gender dan agama (KDP, KDRT, kekerasan seksual, diskriminasi dan penyerangan kelompok minoritas dalam konflik/peperangan).

Demikian saya mengajak kita kritis menyikapi fenomena sosial menyangkut hak perempuan dan upaya pemahaman lebih baik terhadap tuntutan kesetaraan. Perempuan bukan ancaman sehingga kesuksesan, kecerdasan dan kecantikannya harus diwaspadai. Saya kutip lirik kelompok musik SIMPONI: “…perempuan bukan obyek seksual, (perempuan adalah) subyek..”

Catatan tentang wanita*: mengapa kini kata perempuan dalam literatur dan penyampaian resmi lebih banyak dipakai dibanding wanita? Bahkan Komnas Perempuan dan kementerian negara pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak juga memakai kata perempuan, bukan wanita. Wanita diambil dari kata wani dan toto, mengatur manusia (perempuan).
Perempuan berarti “yang di-empu-kan” atau yang dihornati.

——

Tulisan ini dikutip dari sini

Advertisements