wp_ss_20150610_0006

Foto di atas saya ambil pada tanggal 10 Juni pada sore hari sepulang kantor. Ini adalah puncak kekesalan saya terhadap para pengendara sepeda motor yang tidak tahu diri. Ketika saya sedang berjalan di trotoar di Jalan Jenderal Sudirman, tiba tiba ada pengendara motor yang berkali kali membunyikan klakson. Saya terkejut ketika mendapati seorang pengendara motor yang berada tepat di belakang saya. Bukannya saya minggir, saya tetap berjalan santai dan sama sekali tidak memberikan ruang untuk si pengendara.

Setelah itu, saya mulai memarahinya. Saya bilang bahwa dia telah melanggar hak hak pejalan kaki. Saya juga bertanya apakah selama bersekolah dia diajarkan untuk menaati peraturan lalu lintas. Reaksi si pengendara : diam seribu bahasa. Mungkin karena terlalu kaget dan tidak menyangka akan “disemprot” oleh perempuan galak. Saya mengerti bahwa aksi marah saya menjadi tontonan orang. Saya pun tidak peduli. Sekali kali, galak itu memang perlu. Saya juga tidak segan segan “galak” terhadap ibu ibu yang pernah melanggar antrian ketika sedang menunggu bus transjakarta. Kadang saya kesal, mentang mentang usianya lebih tua dari saya, mungkin dia berpikir boleh melanggar antrian.

Dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dalam pasal 106 poin 2 disebutkan bahwa: “Setiap yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan wajib mengutamakan keselamatan pejalan kaki dan pesepeda”. Lebih lanjut, dalam undang undang yang sama pada Pasal 284 yang berbunyi: “Setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor dengan tidak mengutamakan keselamatan pejalan kaki atau pesepeda sebagaimana dimaksud dalam pasal 106 ayat (2), dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 (dua) bulan atau denda paling banyak Rp 500.000 (lima ratus ribu rupiah).”

Undang undangnya jelas berbunyi demikian tapi faktanya, polisi, yang seharusnya menindak, dengan memberikan surat tilang, seringkali mendiamkan hal itu. Saya jadi berpikir : pelanggaran HAM berat di negeri ini pun tidak diusut selama bertahun tahun, apalagi “cuma” pelanggaran terhadap hak-hak pejalan kaki. Di negeri ini , peraturan memang dibuat untuk dilanggar, bukan?

Kata-kata mantan walikota Bogota, Enrique Penalosa patut dicatat : “when you construct a good sidewalk, you are constructing democracy. A sidewalk is a symbol of equality”. Jadi, terbukti kan negara ini belum berdemokrasi….mungkin demorcrazy atau demorcrashit. FYI, sedikit cerita mengenai Penalosa dan opini saya mengenai trotoar dapat dilihat disini .

Advertisements