Ketika saya melihat retweet dari seorang wartawan foto terkenal, Arbain Rambey, mengenai event :  Witnessing the World” : The Journey of Doctors Without Borders (MSF)” , tanpa pikir panjang, saya langsung merencakan untuk menghadiri event itu. Sudah sejak lama saya mendengar nama Médecins Sans Frontières (MSF), tepatnya sejak mereka memenangi Nobel Perdamaian pada tahun 1999 . Selama ini, saya tidak banyak mengetahui mengenai mereka kecuali mengenai fakta bahwa mereka adalah organisasi yang memberikan pelayanan medis di tempat-tempat paling membutuhkan. Adanya event ini benar benar “membuka mata saya” dan membuat saya sadar bahwa organisasi ini pantas dijuluki “pahlawan kemanusiaan”.

TWIR ARBAIN

Event ini terdiri dari pameran foto dan pemutaran film. Pameran foto diadakan pada tanggal 11-17 Mei di Pacific Place Mall, Jakarta. Saya sendiri menghadiri acara ini pada hari Sabtu, 16 Mei. Salah satu karyawan yang bekerja di kantor MSF Jakarta mengatakan bahwa pameran foto ini sengaja diadakan di mall agar menarik perhatian para pengunjung. Cara penyajian foto-foto ini pun cukup menarik. Pengunjung diajak untuk sedikit belajar sejarah. Foto-foto dipamerakan berdasarkan tahun, dimulai dari tahun pendirian MSF hingga misi terakhir yang mereka jalani.

IMG_0231

Foto yang Mengilustrasikan Pendirian MSF

MSF didirikan di Paris, Perancis pada tahun 1971. Mereka adalah sebuah organisasi non pemerintah , non profit, dan independen. Misi mereka adalah memberikan bantuan darurat serta layanan medis bagi masyarakat yang terkena dampak konflik bersenjata, wabah, bencana alam, serta orang orang yang yang tidak mendapatkan layanan kesehatan memadai. MSF memberikan bantuan kepada masyarakat tanpa memandang ras, agama, jender, dan pandangan politik.

IMG_0243

Salah satu tugas yang dilakukan MSF pada tahun 1984, yaitu memberikan layanan kesehatan kepada korban kelaparan di Ethiophia.

Seorang dokter memberikan layanan kesehatan kepada korban tsunami di Aceh.

Seorang dokter memberikan layanan kesehatan kepada korban tsunami di Aceh.

Hal yang perlu diingat adalah bahwa tidak hanya dokter saja yang beperan dalam terciptanya pelayanan kesehatan. Jangan lupakan profesi lainnya seperti bidan, perawat, psikolog, teknisi laboratorium, apoteker, petugas logistik, insinyur, administrasi, dan juga staf divisi Sumber Daya Manusia (SDM). Pada intinya, berkat kerjasama mereka semua-lah sebuah pelayanan kesehatan dapat dilaksanakan di sebuah tempat.

Seorang petugas logistik sedang bertugas di Aceh terkait pelayanan kesehatan yang diberikan oleh MSF kepada korban tsunami disana.

Seorang petugas logistik sedang bertugas di Aceh terkait pelayanan kesehatan yang diberikan oleh MSF kepada korban tsunami disana.

Terlepas dari semua pekerjaan hebat yang dilakukan oleh mereka semua untuk mengusahakan adanya layanan kesehatan, tentunya ada berbagai macam hambatan dan bahaya yang mengintai. Hal itu digambarkan dengan sangat jelas dalam film dokumenter  Access to Danger Zone dan Living in Emergency.

Film Access to Danger Zone ini mengungkap strategi yang digunakan oleh MSF dalam misi menyelamatkan nyawa manusia di tengah tengah perang paling berbahaya seperti di Afghanistan, Somalia, dan Kongo. Pada film ini ada berbagai wawancara dengan narasumber dari MSF, Palang Merah Internasional, dan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Sementara itu, film Living in Emergency menceritakan mengenai keseharian 4 dokter dalam perjuangan mereka untuk menyediakan layanan medis di tengah kondisi ekstrim.

Setelah pemutaran film, para penonton diberikan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan kepada narasumber. Salah satu narsumber yang hadir pada acara ini adalah dokter Heru, yang pernah bertugas dalam misi MSF di Bangladesh, Pakistan, Somalia, Sudan Selatan, dan Afghanistan. Dari sesi tanya jawab, saya dapat mengungkap mengenai beberapa hal:

1. MSF adalah organisasi independen yang tidak menerima donasi dari pemerintah. Sebagian besar dana yang mereka dapatkan berasal dari sumbangan individu. Donatur terbesar MSF adalah Brad Pitt dan Angelina Jolie.

2. Dalam semua misi mereka selama ini, MSF tidak pernah dikawal oleh tentara, kecuali pada saat misi di Somalia. Mengapa mereka memilih untuk tidak dikawal oleh tentara di daerah konflik? Karena mereka bersikap “netral”. Pengawalan oleh tentara akan menunjukkan kesan adanya sikap tidak netral. MSF harus bernegosiasi dengan semua pihak, baik pemerintah maupun kelompok pemberontak. Misi di Somalia adalah pengecualian karena Somalia dianggap sebagai negara yang sangat tidak aman karena disana seolah “tidak ada pemerintah”. Mengingat pernah adanya kasus staf MSF yang diserang dan diculik oleh kelompok milisi bersenjata di Somalia, maka MSF memutuskan untuk menggunakan pengawalan dari “anak buah” para tetua tetua adat disana.  Salah satu korban tewas dalam serangan terhadap MSF di Somalia pada tahun 2011 adalah dokter asal Indonesia, Andrias Karel “Kace” Keiluhu. Berita mengenai kasus tersebut dapat dilihat disini : http://www.theguardian.com/world/2011/dec/30/medecins-sans-frontieres-shot-somalia .

Pada tahun 2013, secara resmi MSF mengakhiri misi mereka di Somalia karena situasi keamanan yang tidak dapat ditoleransi lagi . Serangan yang terus menerus terjadi terhadap para pekerja kemanusiaan membuat mereka mempertimbangkan keberadaan mereka disana. Cerita lengkap mengenai akhir dari misi MSF di Somalia dapat dilihat di link ini : http://www.theguardian.com/world/2013/aug/14/medecins-sans-frontieres-pull-out-somalia

3. Para pekerja MSF tinggal di sebuah compound yang relatif aman. Meskipun demikian, aktivitas mereka sehari hari dibatasi hanya dari compound dan rumah sakit dan sebaliknya, tentunya karena alasan keamanan.

4. Tidak ada batasan umum untuk menjadi relawan MSF. Selama masih kuat secara fisik dan mental serta lulus tes, selama itu juga seseorang dapat menjadi relawan.

5. Tidaklah mudah untuk memberikan pelayanan kesehatan. Ada kalanya pemerintah atau kelompok bersenjata justru menghambat mereka untuk memberikan bantuan. Apabila terjadi hal seperti ini, maka MSF tidak dapat melakukan apapun. Inilah pentingnya ilmu negosiasi untuk dapat “melunakkan” sikap keras kedua belah pihak.

WP_20150516_047

Dokter Heru memberikan penjelasan mengenai pengalamannya ketika bertugas di daerah konflik.

Advertisements