Seperti kita semua ketahui , tanggal 1 Mei lalu diperingati sebagai Hari Buruh. Perlu diingat bahwa yang dimaksud dengan “buruh” disini bukan hanya mereka yang bekerja di pabrik , melainkan semua pekerja. Direktur dan manajer pun dikategorikan sebagai buruh, karena mereka masih menerima gaji. Sementara itu, penjual siomay langganan anda di pinggir jalan itu tidak dapat dikategorikan sebagai buruh….kecuali apabila dia bekerja untuk “boss” somay. 😀

Kali ini saya ingin membahas sedikit mengenai nasib pekerja media di Indonesia. Pada tanggal 1 Mei lalu, saya sengaja datang datang ke sekitar Bundaran Hotel Indonesia untuk memotret aksi besar besaran dalam rangka perayaan Hari Buruh. Seperti yang pernah saya katakan sebelumnya di beberapa tulisan saya, memotret adalah hobby saya, terlebih memotret aksi demonstrasi, meskipun hal ini tidak ada kaitannya dengan pekerjaan saya di media olahraga. 😀

Satu hal yang membuat saya tertarik adalah adanya pekerja media yang tergabung “Forum Pekerja Media”, yang berpartisipasi di aksi itu. Sebagai seorang pekerja media, tentunya saya sangat tertarik dengan yang mereka lakukan, bahkan saya diajak bergabung. Sayangnya, pada hari itu saya bekerja, jadi saya tidak dapat bergabung dengan mereka sampai akhir. Perlu dicatat disini bahwa yang dimaksud dengan pekerja media bukan hanya jurnalis, melainkan juga mereka semua yang bekerja di media, termasuk mereka yang bekerja di percetakan yang terkait dengan media.

Forum Pekerja Media mengatakan bahwa hingga saat ini mayoritas media tidak memiliki serikat pekerja. Ada kecenderungan bahwa pada saat ini, ancaman kebebasan pers justru datang dari dalam industri media itu sendiri, bukan dari negara. Menurut Aliansi Jurnalis Independen (AJI), posisi tawar pekerja media yang buruk karena tidak berserikat itulah yang membuat pemilik media kurang memperhatikan kesejahteraan mereka.. Selain itu, praktek “konvergensi media” membuat beban kerja pekerja media bertambah akan tetapi tidak diiringi dengan peningkatan kesejahteraan.

IMG_0224

Belum lagi, yang mengejutkan, ada jurnalis yang berstatus sebagai pekerja outsourcing. Hal ini tidak dapat dibenarkan karena jurnalis adalah bagian dari “pekerjaan inti” di sebuah perusahaan media. Berdasarkan data Aliansi Jurnalis Independen, sebagian jurnalis berstatus tidak tetap. Sebagian dari mereka juga menerima gaji yang rendah , jauh dari upah minimum regional yang berlaku di masing masing provinsi.

Pada tahun lalu, AJI mengatakan bahwa upah layak seorang jurnalis di Jakarta adalah Rp. 6.5 juta. Hal itu didasarkan pada survei yang dilakukan AJI Jakarta pada Oktober-November 2014 terhadap kebutuhan hidup layak jurnalis di Jakarta dengan pengalaman kerja setahun atau setelah diangkat menjadi pekerja tetap. AJI mengatakan bahwa kerja jurnalis berbeda dengan pekerja di sektor lain karena pekerjaan jurnalis membutuhkan keahlian khusus. Jurnalis bertanggung jawab untuk menyuarakan kepentingan publik. Rendahnya kesejahteraan ini justru akan membuat mereka “lemah” dalam melawan godaan suap dalam bentuk apapun dari narasumber.

Tuntutan lainnya yang disuarkan oleh Forum Pekerja Media adalah agar para pemilik media memperhatikan jaminan sosial para pekerjanya. Adanya potensi besaran iuran BPJS Ketenagakerjaan akan membuat pemilik media mengurangi fasilitas yang diberikan selama ini. Khusus untuk pekerja media perempuan, masih terjadi pembedaan pemberian tunjangan pemeliharaan kesehatan untuk keluarga pekerja media perempuan dibandingkan pekerja media laki laki. Masih banyak perusahaan yang tidak memberikan cuti haid atau ruang laktasi bagi pekerja perempuan yang masih menyusui anaknya.

IMG_0219

Bagaimanapun juga, pers adalah salah satu pilar demokrasi. Kebebasan pers dalam berserikat adalah bagian dari demokrasi. Pas de liberté sans liberté de la presse (tidak ada kebebasan tanpa kebebasan pers). Kesejahteraan pekerja media tentunya akan berdampak besar bagi kebebasan pers.

IMG_0227

                                                           Saya di tengah tengah aksi May Day 😀

WP_20150501_010[1]

(Foto-Foto adalah koleksi pribadi penulis. Diambil pada tanggal 1 Mei 2015)

Advertisements