Lahir dan besar di kota yang terletak di dataran rendah membuat saya selalu antusias untuk melakukan perjalanan ke tempat bersuhu rendah. Dieng adalah sebuah dataran tinggi di Provinsi Jawa Tengah yang terletak di ketinggian 2000 meter di atas permukaan laut. Tempat ini berjarak sekitar 140km dari Purwokerto atau 40km dari Wonosobo dan dapat dijangkau dengan bus.

Bagi saya, perjalanan menuju Dieng sudah menjadi petualangan tersendiri. Saya pergi dengan ayah saya dengan menumpang bus dari Terminal Purwokerto menuju Wonosobo. Kami memerlukan waktu 2 jam untuk sampai di Wonosobo. Sesampainya di Wonosobo, kami melanjutkan perjalanan dengan bus menuju Dieng.

Perjalanan ke Dieng ini mengingatkan saya kepada perjalanan menuju Puncak Pass karena jalan yang berkelok-kelok. Belum lagi ditambah dengan hujan deras yang menyebabkan longsor di beberapa titik. Sangat disarankan untuk pergi ke Dieng ketika musim kemarau untuk menghindari longsor yang terjadi di beberapa titik di Jalan Raya Dieng. Bagi anda yang hobby memotret, akan lebih baik jika pergi ke Dieng di musim kemarau agar cuaca cerah membuat hasil foto anda lebih bagus.

Salah satu penyebab longsor di sepanjang jalan menuju dataran tinggi Dieng ini adalah penanaman kentang secara masif selama puluhan tahun. Menurut ayah, seharusnya para penduduk menanam tanaman dengan akar keras, bukannya malah menanam kentang. Dan saya tidak terkejut dengan pemberitaan bahwa kerusakan di dataran tinggi Dieng sudah tergolong parah. Pemberitaan mengenai hal itu dapat dilihat disini : http://regional.kompas.com/read/2013/06/07/19581798/Buah.Simakalama.Dieng.Bernama.Kentang .

Kembali ke perjalanan saya menuju Dieng. Kami tiba di Dieng sekitar pukul 2 siang (Kamis, 18 Desember 2014) dalam kondisi hujan lebat. Rencananya, kami ingin segera menuju tempat wisata, namun hujan yang turun hingga sore hari menghalangi kami untuk melakukan aktivitas di luar.

Keesokan harinya, kami memulai perjalanan keliling Dieng. Tujuan pertama kami adalah Telaga Warna. Sebelum kami memasuki area Telaga Warna, ada seorang pemandu resmi, Bapak Tholib, yang menawarkan jasanya kepada kami untuk menjelaskan barbagai macam hal yang ada di sekitar Telaga Warna, tidak hanya terfokus ke telaga-nya saja. Akhirnya, kami memutuskan untuk menggunakan jasanya.

Telaga Warna

Telaga Warna

Ayah saya (kiri) dan Pak Thalib (kanan)

Ayah saya (kiri) dan Pak Tholib (kanan)

Di sekitar Telaga Warna, ada beberapa gua, diantaranya adalah gua semar, gua pengantin, dan gua sumur. Menurut penjelasan Bapak Tholib, almarhum Presiden Suharto pernah bersemedi di gua Semar. Mengenai gua pengantin, dipercaya bahwa orang yang bertapa di gua ini akan mendapatkan jodohnya. Well, antara percaya dan tidak percaya karena saya sendiri belum pernah mencobanya 😀

Gua Semar

                          Gua Semar

IMG_9720

                     Gua Pengantin

Gua Sumur

                    Gua Sumur

Setelah selesai berjalan jalan di Telaga Warna, perjalanan di lanjutkan ke Kawah Sikidang. Seingat saya, Pak Tholib sempat menceritakan sedikit mengenai Legenda Kawah Sikidang ini namun saya lupa. Lain kali seharusnya saya membawa alat perekam seolah sedang bertindak sebagai seorang reporter hehehehe. Namun, intinya, kawah ini masih aktif mengeluarkan uap panas yang mengandung belerang.

Kawah Sikidang

                     Kawah Sikidang

Dua obyek wisata tidak membuat kami puas. Hujan yang mengguyur sepanjang siang hari itu memang sedikit menghambat langkah kami untuk melanjutkan perjalanan. Kami harus menunggu kurang lebih satu jam untuk kemudian melihat candi-candi yang ada di Kompleks Candi Arjuna. Beberapa candi itu diantaranya adalah:

Candi Puntadewa

                    Candi Puntadewa

Candi Srikandi

                   Candi Srikandi

Beberapa tips dan informasi yang mungkin berguna bagi anda yang ingin melakukan perjalanan ke Dieng :
1. Bagi anda yang belum memahami “medan” Dieng, saya sarankan agar menggunakan jasa pemandu. Banyak pemandu resmi yang disediakan oleh pihak pengelola objek wisata ini.
2. Berdasarkan pengalaman saya, untuk telaga warna, biaya tip pemandu adalah Rp. 30.000.  Karena saya mengunjungi banyak obyek, seharusnya saya dikenakan tip Rp. 150.000,  namun Bapak Thalib bersedia memberikan diskon sehingga saya hanya membayar Rp. 100.000. Bagi anda yang ingin pergi ke Dieng dan menggunakan jasa pemandu, anda dapat menghubungi bapak Thalib di 082325651640
3. Selalu membawa payung karena cuaca tidak dapat diduga
4. Suhu rata-rata pada siang hari di Dieng berkisar antara 15-20 derajat celsius. Sementara suhu di malam hari dapat turun drastis menjadi 5 derajat.
5. Carilah penginapan yang menyediakan fasilitas air hangat. Hostel tempat saya menginap memang menyediakan air hangat namun saat itu fasilitas tersebut tidak dapat digunakan karena rusak. Ada baiknya anda bertanya terlebih dahulu apakah fasilitas tersebut berfungsi dengan baik
6. Cobalah melakukan perjalanan keliling Dieng Zona 1 dengan berjalan kaki. Udara yang sangat sejuk membuat anda tidak akan merasa lelah. Berdasarkan aplikasi endomondo yang terdapat di ponsel saya, hari itu, kami menempuh perjalanan sejauh 10km. Pemandu yang menemani kami pun terkagum kagum , terlebih kepada ayah saya yang dengan usia 65 tahun masih mampu berjalan sejauh itu.
7. Ongkos penginapan di Dieng bervariasi, mulai dari harga 90 ribu hingga 200 ribu. Saya menginap di hostel Dieng Plateau yang mengenakan tarif 200 ribu per malam.
8. Tiket masuk obyek wisata :

– Tiket masuk kawasan dataran tinggi Dieng : Rp. 8000
– Telaga warna dan Telaga Pengilon : Rp . 5000
– Kawah Sikidang dan Candi Arjuna : Rp. 10000

Advertisements