Salah satu cita cita saya dalam hidup ini adalah merasakan pengalaman snorkeling, entah dimanapun itu. Tanpa direncanakan jauh-jauh hari dan dengan persiapan kurang dari satu bulan, saya melakukan snorkeling di Bunaken. Mengapa Bunaken? Simple jawabannya : karena saya memiliki teman yang tinggal di Manado. Kebetulan juga saya belum pernah mengunjungi Manado. Jadi, selain snorkeling di Bunaken, saya juga mengunjungi obyek wisata lainnya di Manado. Namun, disini saya hanya akan membahas mengenai pengalaman saya terkait dengan snorkeling.

Saya menghabiskan waktu di Manado dan sekitarnya dari tanggal 16 hingga 21 Oktober 2014. Di Bunaken, saya hanya menghabiskan waktu 2 hari 1 malam, tepatnya dari tanggal 18-19 Oktober. Untuk menuju ke Bunaken, anda dapat naik kapal umum yang berangkat setiap hari pada pukul 15.00. Perlu diingat bahwa pada hari Minggu, kapal umum tidak beroperasi (baik kapal dari dan ke Bunaken). Saya sendiri dan teman saya, Novi, menumpang sebuah kapal yang digunakan untuk mengangkut rombongan dokter dokter yang baru saja melakukan baksos di suatu tempat (saya lupa dimana).

C360_2014-10-18-08-51-19-010
Kami tiba di Bunaken sekitar pukul 9 pagi . Untuk menuju cottage tempat kami menginap, kami dijemput oleh 2 pegawai cottage dengan motor. Jarak dari pinggir pantai ke cottage kurang lebih 2,5km. Nama cottage tempat kami menginap adalah Lorenso Cottage. Ternyata, Lorenso Cottage ini masuk dalam daftar cottage yang direkomendasikan oleh website TripAdvisor.com dan buku petunjuk mengenai wisata Indonesia yang diterbitkan dalam bahasa Perancis.

Beberapa cottage di "Lorenso Cottage"

     Beberapa cottage di “Lorenso Cottage”

Lucunya, kami sempat berpikir bahwa pemilik cottage ini bukan warga negara Indonesia, hanya karena memiliki nama “Lorenso”. Sesampainya disana, kami disambut oleh si pemilik cottage, Lorenso, yang adalah orang asli Bunaken. “Om Loren” – begitulah dia sering disapa- telah menjalankan bisnis penginapannya ini sejak tahun 1999!!! Awal mulanya, om Loren pernah bekerja menjadi guide . Saking asiknya bekerja, sekolahnya di STM pun tidak selesai. Namun, dari uang yang dikumpulkannya sejak menjadi pemandu wisata, sedikit demi sedikit om Loren membeli tanah dan membanguun cottage-nya. Cerita yang sangat menarik!

Setelah berbicara sebentar dengan Om Loren, kami pun menaruh barang-barang di kamar untuk kemudian langsung melakukan snorkeling. Hal yang baru saya ketahui adalah bahwa apabila menginap di cottage, harga kamar dihitung per orang per malam. Kami mendapatkan kamar seharga 200 ribu per malam. Sebenarnya ada harga sewa kamar yang lebih murah, namun kamar tersebut sudah penuh. Harga ini sudah termasuk makan 3 kali sehari. Cottage ini tidak mewah dan agak sedikit kotor. Tetapi bagi anda yang sudah terbiasa “backpacking”, maka tidak akan jadi masalah. Di Cottage ini pun listrik hanya menyala saat malam hari hingga pagi hari (18.00-06.00).
Mengetahui niat kami yang ingin melakukan snorkeling tanpa pengalaman sebelumnya, om Loren mendampingi kami berdua, dibantu oleh seorang temannya yang bernama “Opa Bert”. Novi, yang tidak bisa renang, didampingi oleh Om Loren dan saya didampingi oleh Opa Bert. Cottage ini memang menyewakan alat selam namun hanya sedikit. Saran saya, jika anda membawa banyak rombongan, lebih baik anda menyewa alat selam yang ada di dekat pantai Liang. Sekedar informasi saja, Lorenso Cottage ini berada di dekat Pantai Pangalisang.

Pantai Pangalisang

                   Pantai Pangalisang

Satu kesalahan saya pada saat snorkeling ada memakai kacamata renang. Kenapa? Dengan mengenakan kacamata renang, maka hidung saya tidak tertutup dan akhirnya air banyak yang masuk melalui hidung. Berkali-kali saya harus menutup hidung saya pada saat renang. Saya memutuskan untuk tidak menggunakan penutup hidung karena apabila saya menggunakan penutup hidung, maka saya tidak dapat mengenakan kacamata renang khusus untuk mata minus (penutup hidung dan kacamata menyelam menjadi satu). Belakangan saya mengetahui bahwa kacamata khusus menyelam bagi orang bermata minus pun tersedia di Pantai Liang untuk disewakan.

Penutup hidung dan kacamata menjadi satu. Sumber gambar : http://travelblog.ticktab.com/wp-content/uploads/2012/07/us_divers_mask_and_snorkel.jpg

Penutup hidung dan kacamata menjadi satu. Sumber gambar : http://travelblog.ticktab.com/wp-content/uploads/2012/07/us_divers_mask_and_snorkel.jpg

Tidak mudah untuk melakukan snorkeling. Saya yang terbiasa renang di kolam renang dengan gaya dada pun terus membawa kebiasaan ini ke laut. Ternyata, cara renang di laut ini berbeda dengan di kolam renang. Gerak kaki anda ketika renang di laut haruslah seperti gerak kaki ketika mengayuh sepeda. Anda harus melakukan itu agar dapat bergerak ke depan. Selain itu, yang paling sulit adalah bernapas melalui mulut. Bagi anda yang tidak bisa renang, jangan khawatir karena anda dapat menggunakan pelampung.

Novi yang mengenakan pelampung

     Novi yang mengenakan pelampung

Saya yang berkali kali menutup hidung agar air tidak masuk ke mulut

Ketika anda berada di dalam air, hati-hatilah pada saat renang. Jangan sampai kaki anda membentur karang dan tergores seperti yang saya alami ini. Well, saya anggap luka di kaki karena terkena karang itu sebagai “oleh-oleh”.

Terkena karang

                        Terkena karang

Setelah puas snorkeling sepanjang pagi itu, kami beristirahat sejenak sambil menunggu makan siang. Makan siang di cottage ini tidak lain dan tidak bukan adalah apalagi kalau bukan IKAN!! Kami sempat melihat karyawan cottage ini membawa ikan yang sangat besar. Mereka berkata bahwa berat ikan ini adalah 85kg!!! Sayangnya saya lupa nama ikan ini.

Ikan super besar

                    Ikan super besar

Sore hari, sekitar pukul 16.00, kami kembali melakukan snorkeling. Kali ini, kami didampingi oleh 2 karyawan cottage yang bersedia menemani, tepatnya memotret aktivitas kami di dalam air. Apabila anda tidak memiliki kamera bawah air, anda dapat menyewa kamera ini di tempat penyewaan di sekitar Pantai Liang. Harga sewa kamera plus CD yang berisi foto-fotonya adalah Rp. 350.000. Pemandangan di bawah laut sungguh indah. Tidak heran apabila turis asal Perancis yang saya temui disana pun berkata bahwa di Eropa tidak ada pemandangan bawah laut seindah di lautan Indonesia. Inilah beberapa makhluk laut yang tertangkap oleh kamera  :

Penyu

                            Penyu

Clown Fish

                         Clown Fish

Lion fish

                             Lion fish

Bintang laut :)

                      Bintang laut 🙂

Kesan saya selama menginap di Lorenso Cottage adalah bawha karyawan di cottage ini sangat sopan, informatif, dan ramah. Pemilik cottage ini, Lorenso, pun mengakui kepada saya bahwa konsep cottage-nya adalah bahwa pemilik cottage ikut memperhatikan kebutuhan tamu-tamunya. Menurut Lorenso, mayoritas pemilik cottage lainnya sehari-harinya tidak berada di cottage dan tidak melayani tamu-tamunya, namun menyerahkan pelayanan kepada orang lain. Hal lain yang saya sukai dari cottage ini adalah bahwa suasananya sangatlah kekeluargaan. Tamu-tamu dapat berinteraksi satu sama lain ketika jam makan. Mereka duduk bersama di meja makan yang sama. Sebuah konsep baru dari sebuah penginapan, yaitu tidak hanya strategis karena terletak di dekat obyek wisata, melainkan juga “memanusiakan” tamu-tamunya.

Advertisements