Kesukesan Diego Pablo Simeone sebagai pelatih Atletico Madrid tidak perlu dipertanyakan lagi. Simeone, yang mengambil alih tampuk kepelatihan Atletico pada Desember 2011, berhasil membawa timnya merebut 3 gelar selama 3 musim. Walaupun pada bulan Mei lalu timnya kalah di final Liga Champions menghadapi Real Madrid, namun perjuangan Atletico patut mendapatkan apresiasi karena mereka mengalahkan 2 tim kuat, Barcelona dan Chelsea, masing-masing di perempat final dan semifinal. Seminggu yang lalu, Atletico berhasil membalaskan dendam mereka dengan mengalahkan Real Madrid di Piala Super Spanyol.

Penerbit buku ini (Plataforma Editorial, sebuah penerbit di Spanyol) tertarik dengan sosok Simeone karena pernyataan, strategi yang diterapkannya, dan hasil yang dicapai timnya. Kekaguman yang ditunjukkan para pemain terhadap sosok Simeone sebagai motivator, menjadi inspirasi judul buku ini. Simeone sendiri mengakui bahwa ide-idenya dalam buku ini tidak hanya dapat diterapkan di sepakbola, tetapi juga pada profesi lainnya.

Kepemimpinan adalah salah satu kelebihan Simeone. Sejak kecil, Simeone selalu menjadi kapten di tim yang diperkuatnya. Pada usia 24 tahun, Simeone menjadi kapten tim nasional Argentina. Simeone berpikir seperti seorang pelatih sejak berusia 25-26 tahun, oleh karena itu sejak berusia 31 tahun dia mulai mengikuti kursus kepelatihan.

Simeone juga menekankan pentingnya sikap percaya pada diri sendiri. Ketika melatih klub Estudiantes, Simeone berhasil meyakinkan Agustin Alayes (pemain yang berposisi sebagai bek tengah) agar dapat mengawal Rodrigo Palacio (penyerang Boca Junior) dengan baik pada sebuah pertandingan. Alayes adalah pemain yang lambat dan kalah cepat dengan Palacio, namun Simeone tidak punya pilihan lain selain meyakinkannya agar dapat bermain baik. Walaupun Alayes sendiri sempat pesimis, pada akhirnya dia bermain sangat baik dan klubnya berhasil mengalahkan Boca.

Membangun mentalitas para pemainnya juga adalah hal yang dilakukan oleh Simeone. Di Atletico, Simeone memiliki cara yang unik sehari sebelum menghadapi pertandingan penting, yaitu mengadakan percakapan dengan masing-masing pemainnya sebelum mereka tidur. Alasannya adalah bahwa percakapan yang dilakukan sebelum tidur akan selalu diingat dalam pikiran masing-masing pemainnya.  Simeone menganggap para pemain sebagai “anak-anaknya”.

Simeone memiliki “norma-norma dasar” yang tidak boleh dilanggar oleh para pemainnya. Hal ini sederhana, tetapi dapat mempengaruhi kekompakan dan kebersamaan para pemainnya. Di tim lain, pada saat makan bersama, para pemain berkumpul di meja yang berbeda berdasarkan kesamaan minat, asal negara, dan kedekatannya. Namun, Simeone tidak membolehkan hal itu terjadi. Simeone menginginkan apabila ada seorang pemain memiliki masalah dengan pemain lainnya, maka pemain itu menghadapinya dengan wajar dan tidak saling menghindar.

Norma dasar lainnya yang sering disebut oleh Simeone pada hampir setiap konferensi persnya adalah “partido al partido” (pertandingan demi pertandingan). Dengan kata lain, Simeone tidak ingin menetapkan target jangka panjang. Para pemain harus memikirkan pertandingan terdekat, tidak boleh memikirkan pertandingan yang akan berlangsung sebulan lagi atau bahkan lebih jauh.

Dalam buku ini juga dibahas alasan lain di balik kesuksesan Simeone dalam menangani Atletico Madrid. Simeone menyebut bahwa seorang pelatih harus menghormati tradisi klub. Pelatih tidak boleh menentang sejarah dan akar dari klub karena keduanya adalah hal yang sakral. Sebagai mantan pemain Atletico, tentu saja Simeone sangat mengetahui seluk beluk klubnya. Pada saat perkenalannya, Simeone menyebut bahwa dia ingin menjadikan timnya : “kuat dalam serangan balik, kompetitif, kuat dalam bertahan, dan sulit dikalahkan”. Itulah yang menjadi identitas Atletico sepanjang sejarah dan Simeone tidak mengubahnya sedikitpun.

“Efek Simeone” lainnya adalah bagaimana dia memaksimalkan kemampuan para pemainnya. Ketika baru bergabung dengan Atletico, ada 2 pemain yang dianggap oleh Simeone sebagai pemain bintang, yaitu Arda Turan dan Diego Ribas. Namun, Simeone menganggap bahwa kinerja kedua pemain lebih rendah daripada yang seharusnya dapat mereka berikan kepada Atletico.  Simeone meminta Arda memperbaiki beberapa hal dan Arda menjawab : “Saya akan bermain dengan hati”.

Sejak saat itu, Simeone mengakui bahwa dia menaruh respek terhadap Arda karena selalu menepati kata-katanya.

Sementara itu, kepada Diego Ribas, Simeone berkata bahwa seorang pemain tidak dapat melakukan semua hal. Simeone mengatakan hal itu karena dia melihat bahwa Diego berusaha memecahkan segala masalah. Simeone meyakinkannya bahwa Diego akan menjadi pemain yang menentukan jika memainkan sebuah tugas yang lebih spesifik di lapangan pertandingan.

Buku ini cukup adil dalam membahas sosok Simeone. Buktinya, dalam buku ini tidak hanya dibahas mengenai kelebihan Simeone dalam memotivasi para pemainnya, tetapi kesulitan untuk menghadapi perilaku seorang pemain.

Ketika Simeone melatih klub San Lorenzo, dia memiliki seorang pemain bernama Papu Gomez. Papu adalah pemain yang egois dan Simeone tidak menyukai pemain seperti itu. Papu merasa bahwa dia lebih baik apabila bermain sebagai penyerang tengah, tetapi Simeone menganggap bahwa Papu akan lebih berkontribusi bagi timnya apabila bermain sebagai pemain sayap. Papu tetap pada pendiriannya dan hubungan di antara keduanya sedikit bergejolak. Keduanya berdebat, bertengkar, dan bahkan saling mencela.

Sosok seorang pelatih sepakbola, atau cabang olahraga apapun, seharusnya memang sekaligus berfungsi sebagai motivator, tetapi dapat dikatakan bahwa belum ada yang seorang pelatih sepakbola yang dengan gamblangnya menceritakan pengalaman sehari-harinya mengenai strategi memotivasi para pemain. Hal yang menjadi nilai plus dari buku ini adalah pengalaman Simeone yang cukup banyak malang melintang di dunia kepelatihan sejak 2006, sehingga dia memiliki pengalaman yang sangat banyak dalam hal memotivasi sebuah tim.

Kolaborasi Simeone dengan Santi Garcia Bustamante menjadikan penjelasan dalam buku ini “mengalir”. Simeone yang tidak memiliki pengalaman dalam penulisan buku harus berterimakasih kepada Bustamante yang berprofesi sebagai jurnalis. Saat ini Bustamante adalah redaktur desk ekonomi di kantor berita Spanyol, Agencia EFE. Bustamante sendiri pernah menulis buku berjudul “Liderazgo Blanco” : El Real Madrid y Los Valores Legendarios de Sus Jugadores. “Genre” buku itu mirip dengan buku yang ditulis oleh Bustamente dan Simeone karena mengulas mengenai “nilai-nilai” yang dianut oleh Real Madrid sebagai kunci kesuksesan.

Sayangnya, hingga saat ini buku ini belum diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Hanya sebagian kecil orang yang mengerti bahasa Spanyol di negara-negara yang tidak berbahasa Spanyol. Akan lebih berguna apabila ada pihak-pihak yang bersedia mendapatkan lisensi buku ini untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris atau bahkan bahasa Indonesia.

 

—–

Tulisan ini dimuat di :http://www.panditfootball.com . Link lengkap dari tulisan ini dapat dilihat di : http://panditfootball.com/pandit-sharing/memahami-diego-simeone-sebagai-motivator-kelas-satu/

 

Advertisements