Image

 

(sumber gambar : http://metalurgicosdeminas.com.br/wp-content/uploads/2014/04/discriminacao.gif)

 

Artikel mbak Lorraine yang berjudul “Issue SARA” menginspirasi saya untuk menulis artikel ini.

Sebagai seorang warga negara Indonesia, bisa dibilang saya tidak pernah mengalami diskriminasi suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA). Saya memang beruntung, namun tidak demikian halnya dengan beberapa kawan-kawan saya. Cerita yang saya rangkum ini adalah kisah nyata yang diceritakan oleh kawan-kawan saya. Nama orang-orang dalam kisah ini sengaja disamarkan tetapi tempat kejadian tidak saya samarkan. Saya hanya ingin menyadarkan bahwa semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” memang belum diterapkan sepenuhnya oleh masyarakat Indonesia. 

1. Kantor Akuntan
Pada tahun 2006, seorang kawan perempuan (sebut saja Y) baru saja lulus kuliah dari jurusan akuntansi di salah satu universitas di Kanada. Dia berniat mencari pekerjaan dan menanyakan kepada saya jika saya memiliki teman yang bekerja di kantor akuntan. Saya memiliki seorang teman yang bekerja di kantor akuntan (sebut saja E). Saya menanyakan kepada E apakah ada lowongan pekerjaan di tempat dia bekerja. Dia menjawab ada, namun satu hal yang membuat saya terkejut adalah ketika E bertanya : “Teman lu agamanya apa?”. Saya jawab sejujurnya bahwa Y menganut agama tertentu. E menjawab : “Bos gue agamanya kuat, jadi dia cuma ingin merekrut karyawan yang beragama sama dengannya”. Saya berkata dengan ketus : “Ih kok diskriminatif gitu sih?”. Saya tidak meneruskan percakapan dengan E dan kemudian dalam hati saya berpikir : “Agamanya kuat?”, well…itu sih fanatik berlebihan..bukan “agamanya kuat”.

2. Tempat Kost
Pada tahun 2007, saya sering sekali melewati jalan salemba tengah karena saya mengikuti kursus TOEFL UI Salemba. Pada suatu hari saya dikejutkan dengan plang di salah satu tempat kost di Salemba yang bertuliskan : “Menerima mahasiswi dari agama tertentu”. Yang menjadi pertanyaan, apakah ada masalah jika orang yang tinggal di kost itu berbeda agama dengan pemilik kos??? Lalu apa masalahnya?

3. Petugas Keamanan Bandara
Teman saya, seorang lelaki asal Meksiko (sebut saja IL), mengalami perlakuan yang menurut saya agak diskriminatif. Ketika dia transit di bandara Los Angeles, dia didatangi oleh petugas keamanan bandara yang menanyakan bermacam-macam hal kepadanya, mulai dari kemana dia akan pergi, pekerjaannya, dan lain-lain. Hal yang menjadi masalah adalah praktik-praktik seperti ini lazim ditanyakan kepada orang yang terlihat berwajah Amerika Latin, bukan orang kulit putih. Beberapa kali orang-orang Amerika Latin (bukan hanya Meksiko tetapi Kolombia, Ekuador, Venezuela, dll) ditangkap karena melakukan tindak pidana penyelundupan narkotika, tetapi memukul rata bahwa semua orang Amerika Latin adalah pelaku tindak pidana narkoba adalah tindakan yang tidak adil.

4. Universitas
Seorang teman yang berprofesi dosen pernah bercerita kepada saya bahwa ada universitas swasta di Jakarta yang hanya menerima dosen dari agama tertentu. Seperti kisah-kisah sebelumnya yang saya tuliskan di atas dan di bawah, saya tidak akan menyebut agama tertentu di blog ini. Kalau ingin tahu, boleh kontak saya secara pribadi.

5. Sekolah
Salah satu bos di bekas kantor saya pernah bercerita mengenai sikap anaknya yang berubah setelah bersekolah di salah satu sekolah swasta di Depok. Si bos itu pernah menanyakan kepada anaknya : “Kok gak main dengan si ini (sambil menyebut nama teman si anak)?”. Anaknya menjawab : “Gak mau, dia kan agamanya…….” (sambil menyebut agama tertentu). Si bapak jelas kaget tak terkira dan tidak lama setelah kejadian ini, si bapak memutuskan untuk memindahkannya ke sekolah negeri. Beralasan apabila si bapak kaget karena dia tidak pernah mengajarkan kepada anaknya untuk tidak berteman dengan orang yang agamanya berbeda.

6. Seorang Kenalan di Twitter
Seorang kenalan saya di twitter berkali-kali pernah menekankan bahwa dia tidak akan memberikan bangku di KRL kepada orang dari etnis tertentu dan orang dengan berat badan berlebihan. Entah apa alasannya. Saya sudah unfollow dia. Tidak ada gunanya berteman dengan orang seperti itu.

 

Adakah diantara kalian atau kenalan kalian yang menjadi korban diskriminasi SARA?? Jika berkenan, boleh di-share kisahnya.

Advertisements