Image

(Sumber foto : http://static.goal.com/201600/201617hp2.jpg )

Sepakbola selalu diidentikan sebagai hal yang berbau maskulin. Selalu meneguhkan bahwa estetika permainan sepakbola mengajarkan suatu maskulinitas tradisional.

Jadi saat wanita terlibat langsung dalam sepakbola, selalu muncul stereotip bahwa  “sepakbola akan membuat wanita menjadi laki-laki”, “olahraga akan membahayakan kesehatan wanita”, “wanita tidak memiliki kemampuan untuk berolahraga” atau “wanita tidak tertarik untuk berkompetisi”.

Menurut stereotip partriarkis, lelaki dilahirkan untuk “mendominasi, bersaing, dan berjuang”, sebaliknya wanita diharuskan untuk “memahami, memiliki sifat penurut, bersolidaritas, serta menunjukkan ketenangan.

Menurut Ana Bunuel Heras, seorang sosiolog asal Spanyol, olahraga adalah sebuah lapisan sosial yang sempurna untuk mempertunjukkan identitas maskulin, yaitu agresi dan rivalitas yang diatur oleh peraturan tertentu.

Dalam buku berjudul “Del Juego Al Estadio” karangan Jacobo Rivero dan Claudio Tamburrini, dikatakan bahwa olahraga memiliki arti bahwa laki-laki lebih baik. Hal itu diciptakan melalui fakta bahwa cabang olahraga paling terkenal dan mendapatkan bayaran lebih baik adalah cabang olahraga yang dimainkan oleh laki-laki.

Diskriminasi Sepakbola Wanita di Inggris

Keterlibatan wanita di sepakbola telah berlangsung sejak lama. Ada bukti-bukti bahwa wanita telah bermain sepakbola sejak masa Dinasti Han di Cina. Sejarah sepakbola modern sendiri berawal di Inggris, termasuk sepakbola wanita.

Dalam laporan FA, pertandingan resmi pertama sepakbola wanita di Inggris digelar antara tim yang mewakili London Utara melawan London Selatan. Tim utara menang telak 7-1 atas tim selatan.

Sayangnya pada tahun 1921 FA melarang penyelenggaraan kompetisi sepakbola wanita. Alasannya bahwa sepakbola tidak cocok dan tak dianjurkan dimainkan oleh wanita.

Di masa itu ada bukti nyata bahwa lahirnya sepakbola perempuan sebagai ancaman terhadap permainan laki-laki.  Lewat tim “Dick, Kerr Ladies XI” yang terkenal menjadi luar biasa sukses, FA pun panik.

Selama tahun 1921, mereka melangsungkan 67 pertandingan di Inggris dan mampu menyedot penonton hingga 900.000 orang. Tim ini sempat melakukan tur internasional dan tak terkalahkan di kandang melawan klub-klub pria. Pada akhirnya, lewat kekuatannya FA menginstruksikan klub untuk tak menyewakan lapangan mereka pada wanita.

Perlu waktu hampir setengah abad hingga akhirnya sepakbola wanita diakui secara mutlak. Dogma stereotip FA yang kolot terhadap wanita  bahkan perlu didobrak lewat bantuan UEFA. Dibentuklah Women’s Football Association (WFA) pada tahun 1969.  WFA sendiri sebenarnya terpisah dari FA.

Perkembangan sepakbola wanita yang semakin pesat ternyata menggiurkan FA.Hingga pada akhirnya mengambil alih penyelenggaraan liga sepakbola wanita pada tahun 1994.

Melawan Diskriminasi Terhadap Sepakbola Wanita di Spanyol

Tak hanya di Inggris, pesepakbola wanita Spanyol pun menjalani cerita yang sama.

Dalam rangka memperingati Hari Wanita Internasional yang diperingati pada tanggal 8 Maret lalu, Komisi Serikat Pekerja Spanyol mengunggah video di Youtube yang berjudul “Te Juegas Mucho”. Video itu menggambarkan kondisi pesepakbola wanita di Spanyol yang sering mengalami diskriminasi.

Maria Jose Lopez, Sekjen Asosiasi Pesepakbola Wanita Spanyol mengatakan regulasi pengakuan sepakbola wanita amatlah bertumpang tindih. Ibarat mata uang dua sisi, dalam undang-undang yang membahas kesetaraan gender pemerintah diwajibkan untuk memberdayakan atlet wanita.

Tapi disisi lain, dalam dekrit Kerajaan mengenai Federasi Olahraga Spanyol  dijelaskan bahwa hanya mengakui satu kompetisi olahraga profesional berdasarkan jenis kelamin. Jadi jika ada kompetisi olahraga profesional untuk laki-laki, maka tidak ada kompetisi olahraga profesional untuk wanita.

Hal ini menegaskan bahwa status pesepakbola wanita di Spanyol semuanya masih dalam status amatir.  Liga dan klub yang menaungi mereka pun berstatus amatir.

Masalah muncul karena banyak diantara mereka yang tidak dikontrak secara profesional. Ketiadaan kontrak secara profesional mengakibatkan tidak adanya perlindungan dan jaminan sosial, terlebih jika mereka mengalami cedera dan hamil.

“Apa yang terjadi jika seorang pesepakbola wanita hamil? kontrak mereka dapat diputus dan mereka tidak mendapatkan apapun” ucap Maria Jose Lopez.

Perjuangan Melawan Madrid yang Bebal

Pada tahun 2009 presiden Real Madrid Florentino Perez  mengeluarkan pernyataan mencengangkan ketika diwawancarai harian El Confidencial terkait alasan mengapa Real Madrid tak memiliki tim sepakbola wanita.

Perez berkata bahwa sepakbola wanita tidak menguntungkan secara ekonomi dan tidak menarik. Hal ini tentu saja tak logis, mengingat pesain-pesaing mereka di La Liga seperti i Athletic Bilbao, Atletico Madrid, Barcelona, Real Sociedad, Sevilla, dan Valencia telah memiliki tim sepakbola wanita.

Ana Rosell, seorang socia (anggota klub) Real Madrid dan mantan kapten tim sepakbola wanita Atletico Madrid, sedang mengerjakan proyek untuk membentuk tim sepakbola wanita Real Madrid yang telah ia mulai sejak tahun 1998. Sayang, hasilnya selalu nihil.

“Pada kurun waktu tersebut saya telah menulis surat kepada semua presiden klub dan responnya selalu negatif. Saya sempat dekat dengan Mijatovic yang pernah menjadi direktur teknik, namun kepindahannya menghambat saya dan terakhir kali saya kembali melakukannya dengan Florentino Perez. Pihak klub selalu mengatakan tidak, karena alasan ekonomi dan profit. “ ucap Rossel.

Saat ditanya mengapa El Real perlu membentuk tim wanita,  Rossel menjawab ada simbiosis mutualisme diantara keduanya. Sepakbola wanita memerlukan Real Madrid karena Madrid adalah tim tersukses di dunia yang semua orang berpatok membangun klub darinya.

Di lain sisi ada sisi pencitraan yang bisa dimanfaatkan Madrid  yang dilihat dari aspek image, tanggung jawab sosial dan prestise di dunia internasional.

Semua klub-klub besar di Spanyol dan Eropa memiliki tim sepakbola wanita yang berada di papan atas. UEFA serta FIFA pun tak henti mendorong pengembangan sepak bola wanita. Akan menjadi sebuah hal yang memalukan apabila sebuah klub besar seperti Real Madrid tidak berpartisipasi pada proyek ini.

Secara kultural Eropa bukanlah suatu tempat yang dimana perempuan dirongrong untuk tak terlibat langsung dalam sepakbola seperti di belahan negara lain. Kasus Real Madrid adalah hal yang cukup unik. Ucapan Perez diatas adalah penegas bahwa dalam sepakbola hitung-hitungan profit tentu lebih penting ketimbang memberikan hak kepada kaum wanita untuk bermain sepakbola.

 

(Tulisan ini dimuat di http://www.panditfootball.com . Link lengkap dari tulisan ini dapat dilihat di : http://www.panditfootball.com/diskriminasi-terhadap-wanita-di-dunia-sepakbola/ )

 

 

Advertisements