Image

sumber foto : http://krjogja.com/photos/12d59b8f44228ffef11edcfac898eb5b.jpg

Terkait dengan judul tulisan di atas, orang yang kenal dekat dengan saya biasanya mengerti apakah saya benar-benar bertanya atau sedang melontarkan kalimat sarkastis. Sudah lama sebenarnya saya ingin menulis mengenai fenomena ini karena beberapa tahun belakangan ini saya mempunyai “hobi” baru, yaitu mengamati tingkah laku seseorang. Dan yang kali ini saya sorot adalah tingkah laku sebagian orang yang “terlihat” seperti penggemar sepakbola. Saya tekankan di kata “terlihat” karena bisa saja mereka tidak benar benar menggemari sepakbola.

Entah kapan mulai muncul trend “ikut-ikutan menyukai sepakbola”. Namanya juga trend, seperti layaknya pakaian yang sedang trend, sebuah gaya hidup dianggap wajar wajar saja apabila sedang trend. Sedikit cerita mengenai diri saya. Saya menyukai sepakbola sejak tahun 1994 dan tidak ada orang yang mempengaruhi saya untuk menyukai sepakbola, bahkan ayah dan adik laki laki saya pun tidak suka sepakbola.

Kenapa saya bisa suka? Salahkan Piala Dunia 1994. Saya hanya nonton pertandingan final antara Brasil dan Italia. Dan dari situ saya suka Paolo Maldini, seorang bek tangguh. Entah kenapa saya cenderung mengagumi pemain belakang dan……kiper. Oh iya, saya juga pernah bermain sepakbola, tapi dengan teman-teman lelaki karena pada saat itu tidak ada perempuan yang bermain sepakbola. Hal ini pun saya lakukan secara diam-diam tanpa sepengetahuan orangtua karena mereka melarang saya bermain sepakbola dengan laki-laki.

Orangtua saya tidak masalah dengan hobi saya menonton sepakbola, tetapi ketika kawan kawan saya di SD mengetahui bahwa saya suka sepakbola, mereka menganggap saya aneh. Mereka menganggap bahwa perempuan tidak pantas menyukai sepakbola, Padahal saat itu saya tahu bahwa Swedia mempunyai timnas perempuan. Toh tidak ada salahnya saya menyukai sepakbola. Saya tetap pada pendirian saya dan saya tidak merasa ada yang salah di dalam diri saya. Dan sampai saat ini sepakbola menjadi bagian dari kehidupan saya.

Kembali lagi ke masalah “cari perhatian” dengan pura pura suka sepakbola. Suatu hari ketika sedang berada di transjakarta, saya mendengar percakapan yang saya dengar antara 2 orang remaja putri SMA. Karena saya tidak tahu nama mereka, sebut saja mereka: A dan B. Kira kira beginilah percakapan antar mereka :

A : “Elu suka tim apa sih?”

B : “Hmmmm, MU kali yeee….tapi gebetan gue suka MU juga nggak ya? ”

Saya yang sedang asyik membaca buku sontak antara kaget dan ingin tertawa terbahak-bahak mendengar percakapan tersebut. Sayangnya nanti saya dibilang gila karena tertawa sendiri, akhirnya saya pun terpaksa menahan tawa. Haduh….hari gini ikut-ikutan suka sepakbola untuk cari perhatian ke cowok yang disukai. Please girls….be yourself….! Saya pun tidak  pernah berpura-pura menyukai olahraga F1 😀 . Di lain hari, seorang follower saya di twitter menulis status : “Ser del Barça es, el millor que hi ha”. Kemudian muncullah naluri keisengan saya. Saya tanya arti kalimat tersebut. Dia tidak menjawabnya, entah karena tidak tahu atau karena malas menjawab 😀 . 

Berpura pura suka sepakbola untuk cari perhatian juga bukan hanya dilakukan seperti si B tadi yang membicarakan “gebetannya”, Ada juga yang ikut-ikutan pasangannya mengenakan kaus tim sepakbola yang sama dengan pasangannya. Suatu hari setelah selesai berlatih futsal, saya pernah bertanya kepada seorang perempuan yang mengenakan kaus Real Madrid : “Mbak ikutan fans klub Real Madrid?….”. Dia menjawab : “Nggak mbak, saya ngga ngerti, cuma ikut-ikutan aja”. Dalam hati saya berkata : “Wah, perempuan ini lebih “jujur” karena dia bilang bahwa hanya ikut-ikutan”. Sepertinya dia sedang menonton pacarnya yang sedang bermain futsal, karena dia duduk di bangku dekat lapangan sambil mengarahkan pandangannya ke lapangan.

Alasan lain (yang jelas hal ini perempuan) yang membuat seseorang suka sepakbola adalah karena pemainnya yang ganteng-ganteng. Ya, memang tidak semua pemain sepakbola ganteng-ganteng, tapi ada seseorang di kontak BBM saya (saya tidak perlu sebut nama dia) yang mengakui hal itu. Bahkan dia pernah nitip saya untuk dibelikan kaus timnas Spanyol. Soal pemain ganteng ini, siapa sih yang tidak suka melihat orang ganteng?? Saya pun suka, namun hal itu bukan jadi patokan saya untuk memilih pemain favorit atau tim favorit. Maldini kebetulan memang ganteng, tapi banyak yang lebih ganteng. Iker Casillas memang ganteng (kiper favorit saya sejak tahun 2000), tapi Victor Valdes (kiper Barcelona) lebih ganteng. Walaupun demikian saya tidak suka Valdes. Dan perlu diingat bahwa selain Milan dan Madrid, saya juga suka Arsenal. Saya suka Arsenal karena ada David Seaman, seorang kiper yang saya anggap hebat dibanding kiper-kiper timnas Inggris dalam beberapa tahun terakhir ini. Dan dia nggak ganteng lho :D.

Sejujurnya saya sering kesal kalau semua perempuan yang suka sepakbola dianggap bahwa mereka suka sepakbola karena pemainnya yang ganteng. Saya tidak seperti itu karena saya pernah rela nonton timnas Indonesia di Stadion GBK sendiri di malam hari, sampai sampai saya harus bolos kelas bahasa Perancis dan mencari tiket di calo dalam kondisi panas terik :D. Itulah untuk pertama kalinya saya menonton sepakbola di stadion, tepatnya pada Piala Asia 2007.

Fenomena “ikut-ikutan” lainnya adalah banyaknya orang (baik laki-laki dan perempuan) yang mengenakan jersey Barcelona. Berdasarkan pengamatan saya, setiap hari minimal ada 1 orang yang mengenakan jersey Barcelona. Mulai dari yang sedang jalan di mall, berolahraga renang (mungkin saking cinta dengan Barcelona sampai rela berbasah basahan di kolam renang dengan jersey tim favoritnya :p), sedang mencari uang dengan menjadi joki 3 in 1, sampai dengan penjual minyak keliling. Presiden klub Barcelona, Sandro Rosell pasti sangat senang apabila datang kesini karena banyak sekali penggemar Barcelona yang berada disini. Itu berarti dia sukses dalam hal memasarkan produk produknya. Selamat ya om Sandro….pasti anda terpilih lagi di kampanye presiden klub selanjutnya.

Tidak hanya orang-perorang yang bisa cari perhatian mengatasnamakan sepakbola, bahkan ada juga sebuah media yang memberikan kesempatan kepada perempuan untuk menjadi “Soccer Babes”. Mungkin saya terdengar sinis atau nyinyir atau sarkasitis, tapi inilah pendapat saya : “kalau memang mau adil, pemilihan “soccer babes” itu jangan hanya mengandalkan tampang saja, cobalah kontestan tersebut dites mengenai pengetahuan soal sepakbola”. Well, dunia memang tidak adil…..namanya juga media yang merupakan bagian dari bisnis. Sah-sah saja mereka membuat kontes semacam itu walaupun buntut-buntutnya sang pemenang hanya dinilai berdasarkan cantik saja. Ah, cantik pun relatif. Seperti seseorang menganggap bahwa saya cantik ala sosialis.  Lho kok jadi melenceng begini…hahahah 😀 😀 . Intinya, jadilah dirimu sendiri, jangan ikut-ikutan. Seperti kata Kurt Cobain : “I’d rather be hated for who I am than loved for who I am not”.

Advertisements